Rabu, 21 Februari 2018

Prilaku Konsumen, Produsen, dan Konsep Biaya Produksi

A. Perilaku Konsumen

1.  Pengertian-Pengertian dan Asumsi Dasar.
  • Barang   (Commodities)diasumsikan    yang    mempunyai      sifat     makin  banyak dikonsumsi makin besar manfaat yang diperoleh (good).
  • Utilitas (Utility) manfaat yang diperoleh karena mengkonsumsi barang.
    • Total Utility (TU) manfaat total yang diperoleh
    • Marginal Utility(MU) tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah konsumsi sebanyak satu unit barang.
  • Hukum Penambahan Manfaat yang makin menurun (The law of diminishing Marginal Utility) kenapa harga air lebih murah d/p berlian. Hukum ini dinamakan juga Hukum Gossen.
  • Konsistensi preferensi (Transitivity)
    • Prefer: lebih suka barang X d/p Y
    • Konsistensi preferensi: bila X lebih disukai d/p Y, dan Y lebih disukai dari Z; maka barang X   lebih disukai d/p Z.
    • Indifference: X dan Y sama-sama disukai
  • Perfect knowledge konsumen diasumsikan memiliki pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya.
2.  Teori Kardinal
  • Kegunaan dapat dihitung secara nominal disebut util.
  • Keputusan mengkonsumsi berdasarkan perbandingan harga dengan manfaat yang diperoleh.
  • Total Utility merupakan kegunaan yang diperoleh dari konsumsi, dan Marginal Utility adalah     tambahan kegunaan karena tambahan konsumsi 1 unit.
  • Total uang yang dikeluarkan adalah jumlah unit dikali harga satuan.
  • Kepuasan maksimum terjadi saat  MUx = Px.
Contoh:  Utilitas Total dan Utilitas Marginal dari mengkonsumsi Baju.


3.  Teori Ordinal
  • Kegunaan tidak dapat dihitung dan hanya dapat dibandingkan.
  • Analisis menggunakan kurva indiferensi dan budget line
Kurva Indiferensi: adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi dari 2 macam  barang yang memberi kepuasan yang sama kepada seorang konsumen. Dengan asumsi:
  • Konsumen mempunyai preferensi terhadap barang yang dinyatakan dalam peta indiferensi.
  • Konsumen memiliki uang.
  • Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.

Sifat  kurva Indiferensi:

  1. Semakin jauh kurva indiferensi dari titik origin, semakin tinggi tingkat kepuasannya.
  2. Cembung ke titik origin.
  3. Turun dari kiri atas ke kanan bawah dan Tidak saling memotong.

Kurva Garis Anggaran : adalah kurva yang menunjukkan kombinasi 2 macam barang yang dapat diperoleh dengan pendapatan yang sama. Perubahan harga dan pendapatan akan mempengaruhi daya beli konsumen
Keseimbangan Konsumen terjadi pada saat kurva garis anggaran bersinggungan dengan kurva indiferensi. Atau kepuasan tertinggi yang dapat dijangkau dengan pendapatan tertentu.

Reaksi terhadap perubahan harga barang

  • Price-Consumption Curve (PCC);
  • Demand Curve.
  • Permintaan Individu dan permintaan pasar.

Reaksi terhadap perubahan Pendapatan Nominal:

  • Income Consumption Curve (ICC);
  • Engel Curve;

Efek Substitusi dan efek Pendapatan

Jika harga suatu barang turun akan mengakibatkan 2 hal:
  1. Konsumen cenderung akan menambah pembeliaan barang yang harganya murah dan mengurangi barang yang harganya mahal (Efeksubstitusi)
  2. Pendapatan nyata   berubah  menyebabkan  jumlah permintaan  berubah(efek pendapatan) Efek substitusi selalu mempunyai hubungan yang terbalik dengan perubahan harga.
    Sedangkan efek pendapatan memiliki kemungkinan:
  3. kenaikan pendapatan nyata menaikkan permintaan (+) Barang Normal
  4. kenaikan pendapatan nyata menurunkan permintaan (-) Barang Inferior
B.   Perilaku Produsen
  • Model Produksi dengan satu faktor produksi variabel
    • Produksi Total
    • Produksi marjinal
    • Produksi rata-rata
    • Tiga tahap produksi
    • Model Produksi dengan dua faktor produksi variabel
    • Isokuan
    • Isocost (Kurva anggaran Produksi)
    • Pola jalur ekspansi

Skema Proses Produksi
Produksi merupakan konsep arus (flow concept), bahwa kegiatan produksi diukur dari  jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan kualitas barang atau jasa yang dihasilkan tidak berubah.
Tujuan Perusahaan
  • Maksimisasi Sumberdaya (Tenaga Kerja)
  • Maksimisasi Output (Penjualan)
  • Maksimisasi Growth (Pertumbuhan)
  • Kategori Kegiatan Produksi:
  • Produksi sesuai pesanan (custom-order production)
  • Produksi massal yang kaku (rigid mass production)
  • Produksi massal yang fleksibel (flexible mass production
  • Proses atau aliran produksi (process or flow production)
Model Produksi dengan satu faktor produksi variable
  • Fungsi Produksi Total (Total Product): TP
    • TP ↔ Q = f(L, K);  L = tenaga kerja; K = Modal
  • Produksi rata-rata (Average Product): AP
    • APL = TP/L  atau  APK  = TP/K
  • Produksi Marjinal (Marginal Product): MP
    • MPL = ∆TP/∆L atau MPK = ∆TP/∆K
Contoh Tabel Skedul Fungsi Produksi (Angka Hipotesis)


The Law of Diminishing Return

Hukum yang menyatakan berkurangnya tambahan output dari penambahan satu unit input variabel, terjadi pada saat output telah mencapai maksimum.
  • Asumsi yangberlaku :
  1. Hanya ada satu unit input variabel, input yang lain tetap.
  2. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi tidak berubah.
  3. Sifat koefisien produksi adalah berubah-ubah.
Kurva TP, AP, dan MP pada tahap-tahap Proses Produksi


Model Produksi dengan dua faktor produksi variable

Kurva Isoquant: adalah Kurva yang menghubungkan titik-titik kombinasi input yang menghasilkan tingkat output yang sama.



Berbagai kemungkinan kombinasi input pada kurva Isoquant


Marjinal Rate of Technical Substitution (MRTS)

  • Jumlah input L yang dapat disubstitusikan terhadap input K agar tingkat output yang dihasilkan tidakberubah.
  • Menunjukkan tingkat penggantian marjinal yang semakin kecil sepanjang pergerakan ke bawah kurvaisoquant.


Kendala Anggaran Produsen (Kurva Isocost)


Isocost adalah anggaran tertinggi yang mampu disediakan produsen untuk membeli input yang digunakan dalam proses produksi dihubungkan dengan harga input.
PKK + PLL ≤ C



Kurva Isocost terhadap Perubahan Harga Input dan Perubahan Pendapatan



Berbagai kombinasi input dengan biaya terendah



Kombinasi  Input  Variabel biaya   terendah (Least   Cost  Combination) terjadi  pada  titik singgung antara kurva isoquant dengan kurva isocost.



Secara matematis: MRTSLK = - MPL/MPK
Kondisi penggunaan input variabel yang dapat meminimumkan biaya:
MRTSLK = - MPL/MP= dK/dL

 

C. Konsep Biaya Produksi

Konsep Biaya Explisit dan Implisit
  • Biaya eksplisit = biaya yang terlihat jelas seperti pada laporan keuangan.
  • Biaya implisit = biaya kesempatan (opportunity cost)

Produksi, Produktivitas dan Biaya

Tingkat produksi berkaitan dengan tingkat produktivitas faktor-faktor produksi yang digunakan. Produktivitas yang tinggi menyebabkan tingkat produksi yang sama dapat dicapai dengan biaya yang lebih rendah.
Konsep Biaya Produksi Jangka Pendek
  • Biaya Total (Total Cost) merupakan jumlah dari biaya tetap dan biayavariabel.
  • Biaya Tetap (Fixed Cost) adalah biaya yang besarnya tidak tergantung dari jumlah produksi (misal: biaya modal, gaji, sewa gedung, dll)
  • Biaya Variabel (Variable Cost) adalah biaya yang besarnya tergantung dari tingkat produksi (misal: biaya bahan baku, upah buruh,dll)
Total Cost     = Fixed Cost + Total Variable Cost
             TC   = FC + TVC



Kurva Biaya Total, Biaya Tetap dan Biaya Variabel.
  • Biaya Rata-rata (Average Cost)
AC       =   AFC + AVC
TC/Q    =  FC/Q + TVC/Q
  • Biaya Marginal (Marginal Cost)
       MC      = dTC/dQ.

 Hubungan kurva-kurva Biaya



Biaya Produksi Jangka Panjang (Longrun Cost)

Dalam jangka panjang semua biaya adalah variabel.
         LTC   = LVC
         LMC = dLTC/dQ
         LAC  = LTC/Q
Kurva Biaya rata-rata jangka panjang:Teorema Amplop (Envelope Theorem)
  • SAC1 = kurva biaya rata-rata jangka pendek pada skala kecil.
  • SAC2 = kurva biaya rata-rata jangka pendek pada skala menengah.
  • SAC3 = kurva biaya rata-rata jangka pendek pada skala besar.


Kurva Biaya Marjinal Jangka Panjang (LMC)



Skala Produksi Ekonomis dan Tidak Ekonomis


Memaksimumkan Laba

Pendapatan (Revenue)
  • TR = Total Revenue =(Price x Quantity)
  • MR = Marginal Revenue (tambahan penerimaan akibat bertambahnya penjualan 1 unit) atau (turunan pertama dariTR).
  • AR = Average Revenue (rata-rata pendapatan)  =TR/Q

Titik Impas (BEP)



Jika biaya variabel per unit adalah v, maka VC = v.Q

Profit = PQ – ( FC+vQ )

Pada Quantity = Q*
Profit = PQ*-(FC+vQ*)
BEP tercapai pada saat profit=0
Maka:  Q* = FC/(P-v)

Total Revenue, Marginal Revenue, Average Revenue

Rabu, 17 Januari 2018

STRUKTUR PASAR

A. Struktur Pasar

Secara teoritis ada dua kondisi ekstrim posisi perusahaan dalam pasar. Pertama perusahaan berada dalam pasar persaingan sempurna, dimana jumlah perusahaan begitu banyak dan kemampuan  setiap  perusahaan  sangat  kecil  untuk  mempengaruhi  harga  pasar. Kedua adalah perusahaan hanya satu-satunya produsen (monopoli). Dalam posisi ini perusahaan mampu mempengaruhi harga dan jumlah output dalam pasar. Namun kondisi ekstrim tersebut jarang sekali terjadi. Yang pada umumnya adalah dua kondisi peralihan antara ekstrim pasar persaingan sempurna dan monopoli. Kondisi pertama adalah perusahaan bersaing, tetapi masing-masing mempunyai daya monopoli terbatas (monopolistik). Kondisi kedua adalah dalam pasar hanya ada beberapa produsen yang jika bekerja sama mampu menghasilkan daya monopoli (oligopoli).



B. Pasar Persaingan Sempurna

Sebuah industri dikatakan bersaing sempurna jika mempunyai karakteristik :
  1. Small Relatively Output -- Industri tersebut terdiri dari banyak sekali penjual independen dari sebuah komoditi, yang masing-masingnya terlalu kecil untuk mempengaruhi harga komoditas tersebut.
  2. Homogeneous produc t-- Semua perusahaan didalam industri tersebut menjual produk yang homogeny (identik)
  3. Perfect Knowledge dan Free entry and exit -- Terdapat mobilitas sempurna sumber- sumber daya, sehingga berbagai perusahaan dapat masuk atau keluar industri ini dalam jangka panjang tanpa mengalami kesulitan berarti.
  4. Price Taker -- Akibatnya perusahaan kompetitif sempurna merupakan “penerima harga” dan dapat menjual komoditas tersebut dalam jumlah berapapun pada harga pasar yang ada.
Permintaan dan Penerimaan dalam Pasar Persaingan Sempurna
  • Tingkat harga ditentukan oleh permintan danpenawaran
  • Perusahaan secara individu harus menerima harga tersebut sebagai hargajual
  • Jumlah output perusahaan relatif sangat kecil dibanding output pasar, berapapun yang dijual perusahaan harga relatif tidak berubah
  • Karena harga telah ditetapkan maka average revenue AR dan Marginal Revenue MR adalah sama dengan harga P

Kurva Permintaan Industri dan Perusahaan dalam pasar persaingan sempurna



Kurva Penerimaan: TR, AR, MR dalam pasar persaingan sempurna

C. Pasar Monopoli

Faktor-faktor penyebab tebentuknya Monopoli
  • Hambatan Teknis
    • Special knowledge
    • Tingginya tingkat efisiensi (rendahnya MC dan AC)
    • Memiliki kemampuan kontrol sumber daya faktor produksi
  • Hambatan Legalitas
    • Undang-undang dan Hak Khusus
    • Hak Paten atau Hak Cipta

Kurva Demand dan Keseimbangan Monopoli



Monopoli Alamiah



Diskriminasi Harga

Kebijakan diskriminasi harga adalah menjual produk yang sama dengan harga yang berbeda pada pasar yang berbeda dengan tujuan menambah laba melalui eksploitasi surplus konsumen.

Syarat diskriminasi harga :

  • Perusahaan memiliki daya monopoli
  • Pasar dapat dibagi menjadi 2 kelompok atau lebih yang elastisitas permintaannya berbeda
  • Pembagian pasar harus efektif
  • MR di tiap pasar adalah sama agar menghasilkan laba maksimum

Keseimbangan Perusahaan dalam Kebijakan Diskriminasi Harga.

  1. Tanpa melakukan diskriminasi harga, keseimbangan tercapai pada saat output = Qt dan harga = Pt. maka Laba maksimum = seluas bidang APtBC.
  2. Dengan diskriminasi harga, keseimbangan tercapai bila setiap pasar, MR-nya sama dengan MC MRa = MRb = MC.
  3. Keseimbangan di pasar A output = Qa; harga jual = Pa; Laba Maksimum = seluas bidang EPaFG
  4. Keseimbangan di pasar B output = Qb; harga jual = Pb; Laba Maksimum = seluas bidangHPbIJ
  5. Dengan diskriminasi harga, output total yang terjual (Qt) sama dengan Qa+Qb;
  6. [Laba maksimum-a + Laba maksimum-b] > Laba Maksimum-t ;
  7. surplus konsumen kelompok b tinggal sebesar luas KPbI;
  8.  Seluas PbLMI merupakan surplus konsumen (yang permintaannnya elastis) yang dieksploitasi menjadi laba perusahaan;
  9. luas segitiga IMN merupakan kesejahteraan konsumen yang hilang.
  10. Kurva permintaan di Pasar kelompok a lebih elastis Pa < Pb

Hilang atau Berkurangnya Tingkat Kesejahteraan Konsumen (dead weight loss).



Memburuknya Kondisi Perekonomian Internasional.



Aspek Positif Monopoli
  • Efisiensi dan pertumbuhan ekonomi: karena laba maksimal.
  • Efisiensi Pengadaan Barang Publik: karena skala usaha yang besar.
  • Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat: dalam diskriminasi harga memungkinkan masyarakat dapat menjangkau harga sesuai kemampuan.
D. Pasar Persaingan Monopolistis
  • Adalah struktur pasar di mana terdapat cukup banyak perusahaan yang menjual produk- produk yang mirip satu sama lain, namun tidak identik.
  • Teori pasar persaingan monopolistik dikembangkan karena ketidakpuasan terhadap daya analisis model persaingan sempurna maupun monopoli.
  • Model ini dikembangkan oleh Joan Robinson (ekonom Inggris) dan Edward Chamberlain (ekonom USA).
  • Struktur pasar hampir sama dengan persaingan sempurna, namun produk yang dihasilkan tidak homogen, melainkan terdiferensiasi
  • Diferensiasi ini mendorong perusahaan untuk melakukan persaingan non harga.
  • Output yang dihasilkan sangat mungkin saling menjadi substitusi

Karakteristik pasar persaingan monopolistik

  1. Produk terdiferensiasi
  2. Jumlah perusahaan banyak dalam industri
  3. Bebas masuk dan keluar pasar
  • Produk yang terdiferensiasi
    • Produk dapat dibedakan oleh konsumen dengan melihat siapaprodusennya.
    • Barang-barang tersebut dapat diperbedakan oleh kualitas barangnya, model, bentuk, warna, bahkan oleh kemasan, merek,danpelayanannya.
    • Konsumen dapat membedakan produk tertentu kesukaannya dari produk perusahaan lainnya. Hal ini menyebabkan perusahaan memiliki daya monopoli, walauterbatas.
    • Diantara produk-produk dapat salingmenjadisubtitusi.
    • Persaingan monopolistik berada diantara pasar persaingan sempurna dan monopoli.

  • Jumlah perusahaan banyak dalam industri
    • Contohnya dapat dilihat dengan begitu banyaknya merek pakaian dan sepatu.
    • Keputusan perusahaan tentang harga dan output tidak perlu harus  memperhitungkan reaksi perusahaan lain dalam industri, karena setiap perusahaan menghadapi kurva permintaannyamasing-masing.
  • Bebas masuk dan keluar pasar
    • Laba super normal akan mengundang perusahaan baru untuk memasuki industri.
    • Bagi perusahaan eksisting bila tidak mampu bersaing maka lebih baik keluar agar kerugian tidak menjadi lebihbesar.

Keseimbangan perusahaan dalam jangka pendek

  • Perusahaan mencapai keseimbangan dalam jangka pendek danpanjang.
  • Dalam jangka pendek perusahaan dapat menikmati laba super normal, dalam jangka panjang perusahaan hanya menikmati labanormal.
  •    Keseimbangan jangka pendek perusahaan tercapai bila MR=MC. Karena memiliki daya monopoli, walau terbatas.
  • P > MC ; tetapi kemampuan eksploitasi laba relatif terbatas, karena kurva  permintaan yang dihadapi sangatlandai.

Keseimbangan perusahaan dalam jangka panjang

  • Dibandingkan pasar monopoli, persaingan monopolistik masih lebih baik dilihat dari lebih kecilnya total kesejahteraan yang hilang (dead weightloss)
  • Dibanding pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik masih kurang efisien.
Penyebabnya:
  1. Harga jual masih lebih besar dari biaya marginal (P>MC)
  2. Dalam  jangka  panjang  mengalami  kelebihan  kapasitas (Excess  capacity), dapat dijelaskan dengan kurva berikut ini :

Pada saat keseimbangan jangka panjang (titik A), perusahaan tidak berproduksi pada tingkat paling efisien, sebab titik A bukan titik terendah pada AC.
  • Pada saat AC terendah output harus ditambah menjadi Qb.
  • Jika output melebihi Qa, menurunkan laba (bahkan rugi karena MC>MR)

Pengaturan pasar persaingan monopolistik

Ketidakefisienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi dalam pasar persaingan monopolistik tidak perlu pengaturan, karena :
  1. Daya monopoli yang relatif kecil menyebabkan kesejahteraan yang hilang relatif kecil.
  2. Permintaan yang sangat elastis menyebabkan kelebihan kapasitas produksi relatif kecil.
  3. Ketidak efisienan yang dihasilkan perusahaan diimbangi dengan kenikmatan konsumen karena beragamnya produk, peningkatan kualitas, dan meningkatnya kebebasan konsumen dalam memilih output.
E. Pasar Oligopoli

Pasar oligopoli adalah struktur pasar di mana hanya terdapat beberapa atau sedikit perusahaan saja yang menjual produk-produk yang identik atau yang mirip satu sama lain. Struktur pasar atau industri oligopoli adalah pasar (industri) yang terdiri dari hanya sedikit perusahaan (produsen) di mana:
  • Setiap perusahaan memiliki kekuatan cukup besar untuk mempengaruhi harga pasar.
  • Perilaku setiap perusahaan akan mempengaruhi perilaku perusahaan lainnya dalam industri.
  • Kondisi pasar oligopoli mendekati kondisi pasar monopoli.

Karakteristik Pasar Oligopoli

  • Hanya sedikit perusahaan dalam industri.
  • Produknya homogen atau terdiferensiasi.
  • Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi.
  • Kompetisi non harga.

  • Hanya sedikit perusahaan dalam industri.
    • Biasanya jumlah perusahaan diasumsikan kurang darisepuluh.
    • Kekuatan perusahaan-perusahaan dalam industri dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi, yaitu berapa persen output dalam pasar oligopoli dikuasai oleh perusahaan yangdominan.
    • Pasar suatu industri dikatakan berstruktur oligopolistik apabila CR4 (four firms concentration ratio) melebihi40%.
    • Jika CR8 = 80%, berarti 80% penjualan output dalam industri dikuasai oleh delapan perusahaanterbesar.

  • Produknya homogen atau terdiferensiasi.
    • Bentuk persaingan antar perusahaan adalah persaingan harga dan nonharga.
    • Contoh pasar oligopoli yang menghasilkan produk diferensiasi: industri mobil, rokok, filmkamera.
    • Oligopoli yang menghasilkan produk homogen: industri baja, pipa paralon, seng, dankertas.
    • Semakin besar tingkat diferensiasinya, perusahaan makin tidak tergantung pada perusahaan-perusahaanlainnya

  • Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi.
    • Keputusan perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output akan mempengaruhi perusahaan lainnya, baik yang sudah ada (existing firms) maupun yang diluar industri (potential firms).

  • Kompetisi non harga.
    • Bentuk kompetisi pelayanan purna jual serta iklan (informasi, citra yang baik, merek, mempengaruhi perilaku konsumen)
Faktor Penyebab Terbentuknya Pasar Oligopoli
  • Efisiensi skala besar.
    • Teknologi padat modal (capital intensive) yang dibutuhkan dalam  proses produksi menyebabkan efisiensi (biaya rata-rata minimum) baru tercapai bila output yang diproduksi dalam skala sangat besar. (industri mobil, semen, kertas, pupuk, peralatanmesin).
  • Kompleksitas Manajemen.
    • Karena kompetisinya harga dan non harga, Kemampuan keuangan yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk bertahan dalam industri. Perusahaan harus mempunyai kemampuan manajemen yang sangat baik agar mampu bertahan dalam struktur industri yang persaingannya begitukompleks.

Duopoli (Oligopoli yang hanya ada dua perusahaan)

Duopoli adalah keadaan khusus di mana dalam pasar oligopoly hanya ada dua perusahaan. Model ini dikembangkan untuk melihat lebih tajam interaksi antar perusahaan dalam pasar oligopoly.
  • Model Cournot

  •  Model ini dikembangkan oleh Augustin Cournot (1938)
  •  Masing-masing duopolis mempunyai daya monopoli yang sama
  •  Keputusan jumlah output yang diproduksi berdasarkan asumsi bahwa output duopolis yang satu (saingannya) sudah diputuskan dan tidak akan berubah.

Misal   permintaan pasar :              Q = 30 - P atau P = 30 - Q; di mana Q = Qa + Qb
Maka:               TRa = P x Qa = (30-Q) x Qa = {(30 - (qa  +Qb)} x Qa
= 30Qa - Qa2 – QaQb
Laba maks tercapai bila     MR = 0      
     MR = 30 - 2Qa – Qb = 0
     Qa  = 15 – 0,5Qb
Dengan cara sama:            Qb =15 – 0,5Qa

  • Model Kepemimpinan Stackelberg

  •  Pada model cournot mengasumsikan bahwa keputusan dua perusahaan dilakukan secara bersamaan sedang pada model ini ada perusahaan yang mengambil inisiatif terlebih dahulu, kemudian perusahaan kedua mengikutinya.
  •   Dari contoh sebelumnya P=30-Q dimana kurva reaksi perusahaan B: Qb=15 -0.5Qa. Maka untuk mencapai laba maksimum, fungsi penerimaan perusahaan A memperhitungkan reaksi perusahaan B.
       TRa ={(30 - (qa + Qb)} x Qa
= 30Qa - Q2a – QaQb
= 30Qa - Q2a -15Qa + 0.5Q2a
= 15Qa + 0.5Q2a
  MRa = dTRa/dQa = 15-Qa
Laba maksimum bila MR=0
Perusahaan A memproduksi 15 unit, sedangkan perusahaan B memproduksi 7,5 unit. Jadi perusahaan yang mengambil inisiatif penentuan harga memperoleh laba lebih besar dari pada follower.
  • Teori permainan (Game theory)
Duopolis tidak selalu mengambil keputusan kompetitif, tetapi juga kerjasama (cooperatif) Model dilema tahanan (Prisoners’ Dilemma Model)
  • Model ini menjelaskan bagaimana sikap seseorang mengambil keputusan  dalam keadaan tidak dapat berkomunikasi dengan teman atau lawannya.
  • Model dilema tahanan dapat diadaptasi untuk menganalisis keputusan masing-masing duopolis dalam menentukan harga jual.
Contoh dilema tahanan:
  • Dalam permainan dua penjahat yang tengah dicurigai telah melakukankejahatan.
  • Hukuman yang diterima masing-masing ditentukan oleh keputusan masing-masing untuk mengaku atau tetap tutup mulut.








Contoh lain dilema tahanan
  • Perlombaan senjata Amerika Serikat vs Rusia
    • terancam, terancam dan lemah, aman dan kuat, aman.
  • Permainan iklan atau tidak beriklan 2 produk rokok
    • laba cukup kecil, laba kecil- besar, laba besar-kecil, laba cukup besar

Rabu, 13 Desember 2017

Teori Kritis: Pijakan Kajian Sosiologi Ekonomi Di Era Post-Modernisasi

Teori Kritis adalah produk dari para pemikir noe-Marxis Jerman yang mulai menyadari keterbatasan teori Marxian klasik dalam memahami perubahan realitas sosial yang makin komplek di era masyarakat modern dan post-modern.
Kendati bertitik tolak dan memperoleh ilham dari Karl Marx, namun perkembangan teori kritis kemudian justru melampaui dan bahkan meninggalkan Marx karena telaahnya yang makin beragam pada seluk-beluk kehidupan masyarakat industrial maju, era kapitalisme akhir, dan bahkan masyarakat post-industrial.
Berbeda dengan masyarakat di era modern yang lebih banyak berkaitan dengan persoalan modal dan produksi, masyarakat yang telah memasuki era post-modern umumnya lebih banyak berkaitan dengan persoalan gaya hidup, konsumsi, produk-produk industri budaya, dan persentuhan mereka dengan teknologi informasi yang makin masif.

Pendekatan Supradisipliner Teori Kritis


Sejak awal kelahirannya, teori kritis telah memancing banyak perdebatan dan memiliki pesona magis yang kuat, tidak hanya di kalangan teoritis ilmu sosial, tetapi juga di kalangan aktivis gerakan sosial.
Teori kritis tidak hanya berkembang melalui serangkaian kritik terhadap pemikir dan tradisi filsafat lain yang berkembang sebelumnya, tetapi teori kritis juga berkembang melalui dialog, kelahirannya berkarakter dialektis sebagaimana metode yang ingin diterapkan dalam memahami fenomena sosial (Jay, 2005:57)
Menurut Kellner (2003: 2) :
“Teori Kritis menawarkan pendekatan multidisipliner-atau lebih tepat disebut pendekatan supradisipliner-untuk teori sosial yang menggabungkan perspektif-perspektif yang bersumber dari ekonomi politik, sosiologi, teori kebudayaan, filsafat, antropologi, dan sejarah.”
Singkatnya, teori kritik bertujuan untuk mendorong kita melakukan eksplorasi refleksi diri tentang berbagai pengalaman yang kita miliki dan cara di mana kita memandang diri kita, budaya kita, dan dunia (Malpas & Wake (eds.), 2006).
Menurut (Jay, 2005: 115-121) dalam bukunya ada beberapa hal perbedaan teori kritis dengan teori-teori tradisional yaitu :
  1. Teori kritis menolak memberhalakan pengetahuan sebagai sesuatu yang terpisah dan lebih penting daripada tindakan
  2. Penelitian ilmiah nir-kepentingan tidak mungkin dilakukan dalam suatu masyarakat dimana anggotanya belum otonom.
  3. Teori kritis berkeyakinan bahwa penelitian sosial harus selalu berisi komponen historis, bukan sebagai rigiditas peristiwa-peristiwa yang dinilai dalam konteks kekuatan-kekuatan historis objektif, namun lebih melihat mereka dari sudut pandang kemungkinan historis, sehingga penelitian sosial selalu bersifat dialektis.
  4. Lebih dari sekedar berlogika sebab akibat, teori kritis memahami fenomena sebagai universal sekaligus partikular
  5. Teori kritis memiliki tujuan perubahan sosial, namun menghindari terjebak dalam pragmatisme.
  6. Teori kritis berniat menyatukan dirinya dengan semua kekuatan progresif yang berkeinginan untuk menyatakan kebenaran.
  7. Teori kritis berkonsentrasi pada dua masalah, yaitu :
♦  Struktur dan perkembangan otoritasnya dan
♦  Kemunculan serta pertumbuhan budaya massa.

Menolak Positivisme : Ancangan Metodologi Teori Kritis


Di satu sisi, mungkin benar bahwa cara kerja dan implementasi positivisme telah banyak memperoleh pengakuan pada bidang ilmu-ilmu alam, tetapi ketika diterapkan dalam bidang ilmu sosial harus diakui ada sejumlah persoalan dan kemungkinan bias yang timbul (Hardiman, 2003).
  1. Akibat positivisme terlalu menekankan dimensi observasi dan verifikasi praktik politik, daya dorong positivis ini akhirnya sering kali mempersempit secara tajam ruang analisis empiris. Ketakutan spekulasi menteknikalisasi ilmu sosial, mendorong kepada presisi semu dan studi-studi korelasional yang remeh-temeh.
  2. Daya dorong positivis juga mengakibatkan surplus energi  yang dikerahkan pada inovasi metodologis, dan bukan konseptual, karena yang disebut tantangan ilmiah lebih dipahami sebagai pencapaian bentuk-bentuk yang lebih murni dari ekspresi observasional.
  3. Persuasi positivis juga melumpuhkan praktik sosiologi untuk berteori. Diakui atau tidak, penerapan positivisme yang terlampau ketat, pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya reduksi ilmu pengetahuan, bahkan kematian ilmu pengetahuan itu sendiri yang makin menjauhi realitas sosial.
Berbeda dengan positivisme yang bertujuan memproduksi hukum sosial, dan cederung mengkaji realitas dan masalah sosial semata sebagai imbas atau dampak dari faktor sosial yang lain, dengan ukuran-ukuran amanat yang tertata. Serta berbeda pula dengan perspektif interpretatif yang hanya memahami tindakan sosial pada level makna, maka teori kritis umumnya mencoba memahami realitas sosial sebagai refleksi dari proses dialektika dan resistensi subjektif individu yang tidak berdaya di tengah dominasi kekuatan struktur ekonomi dan represi kultur yang serba menekan ( Ritzer & Goodman, 2008: 301).
Dalam hal ini, paling tidak ada dua fokus utama yang akan menjadi perhatian teoretisi kritis.
  1. Pada proses represi kultural yang dialami individu dalam perkembangan industri kapitalisme yang mendominasi, ekspolitatif, patriarkis dan lain sebagainya, dan bagaimana individu yang menjadi korban perkembangan situasi tersebut merespons dunia di sekitarnya. Meski teori kritis bertitik tolak dari teori Marxian, namun teori kritis menukar orientasi teori Marxian, namun teori kritis menukar orientasi teori Marxian yang terlalu menekankan arti penting struktur ekonomi dan materialisme menuju ke arah subjektivitas, yakni pemahaman tentang elemen-elemen subjektif kehidupan sosial pada level individu dan level kultural. Salah satu tema pokok yang dikaji teoretikus kritis adalah ideologi, yakni sebuah sistem gagasan yang sering kali palsu dan mengaburkan, yang dihasilkan kelas yang berkuasa (Ritzer & Goodman, 2008: 306).
  2. Fokus utama teori kritis adalah minatnya pada dialektika, yakni memahami realitas sosial sebagai sebuah totalitas. Dalam pandangan teori kritis, fenomena sosial , tak pelak akan dipahami tidak dalam lingkup yang parsial semata, tetapi fenomena sosial itu niscaya akan dicoba dipahami terkait dengan cakupan historis, dengan struktur sosial yang dipahami sebagai entitas global. Teori kritis menolak fokus yang terlalu spesifik, khususnya sistem ekonomi. Pendekatan teori kritis menaruh perhatian pada kesalingterkaitan berbagai level realitas sosial yang terpenting kesadaran individu, suprastruktur kultural, dan struktur ekonomi.
PERBEDAAN PERSPEKTIF POSITIVISTIK, INTERPRETATIF, DAN TEORI KRITIS


AspekTeori Sosial / Perspektif
PositivistikInterpretatifKritis
Tujuan intelektual
Memproduksi hukum sosial
Memahami tindakan sosial pada level makna yang mengikat manusia
Memahami dominasi dan membuka kesempatan masyarakat untuk melakukan perlawanan dan pembebasan
Asumsi tentang perubahan sosial
Keteraturan dunia sosial sesuai hukum sosial (statis).
Ditumbuhkan pada level subjektif dan insubjektif.
Adanya hubungan historis pola-pola sosial masa kini, masa lalu, dan masa yang akan datang.
Asumsi tentang hakikat manusia
Manusia sepenuhnya ditentukan oleh takdir sosial
Subjek aktif dan kreatif
Kesadaran manusia dapat mengatasi kondisi sosial, karena manusia memiliki kebebasan eksistensial mendasar.
Asumsi tentang pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil deskripsi fakta aktual yang ada dalam masyarakat sebagai hukum sosial
Setiap narasi memiliki nilai kebenaran sebagai representasi penjelasan dan logika hidup manusia
Pengetahuan (kritis) dapat mengubah jalannya sejarah bila diterapkan dengan benar.
Posisi disipliner
Disipliner
Disipliner
Interdisipliner/supradisipliner
Metode
Kuantitatif
Kualitatif
Polivokalitas
Tokoh perintis, tokoh pencetus, dan pemikirannya.
August Comte (fisika sosial, hukum sosial, kausalitas sosial).
Immanuel Kant (makna tindakan).
• Karl Marx (historisitas).
•Horkheimer, Adorno, Marcuse, Habermas (mazhab Frankfurt).
•Mary Wollstoncraft dan Kate Milet (feminisme).
•Richard Rorty (posmodernisme, dialog antar-paradigma).
•Stuart Hall (cultural studies, mazhab Birmingham).
Sumber : Diolah dari Denzim & Lincoln (2009) dan Agger (2003).

Dibandingkan perspektif yang lain, kelebihan teori kritis karena perspektif ini bersifat atau indisipliner, dimana tujuan utama teori kritis adalah penggunaan sistematik semua disiplin riset keilmuan sosial demi mengembangkan sebuah teori yang komprehensif tentang masyarakat. Teori kritis, dalam praktiknya biasanya akan menggabungkan pendekatan ekonomi politik, psikologi sosial dan teori budaya, sehingga dapat diperoleh penjelasan yang benar-benar lengkap dan kontekstual (Axel  Honneth, dalam: Giddens & Turner, 2008:605-656). Perspektif teori kritis pada dasarnya memfokuskan perhatian pada sifat kapitalisme dan dominasi yang terus berubah, termasuk ketika kapitalisme mewujudkan dirinya ke dalam berbagai bentuk, mulai dari industri pabrikan, industri makanan cept saji, industri fashion, musik, dan industri budaya komersial lain (Denzin & Lincoln, 2009: 171-172).
Dalam penelitian perspektif kritis, term yang digunakan bukanlah validitas sebagaimana banyak digunakan dalam perspektif positivistik, melainkan kepercayaan. Adapun kriteria yang digunakan untuk menilai ketepercayaan dalam penelitian yang menerapkan perspektif teori kritis, antara laian :
  1. Dengan memperhatikan kredibilitas dari gambaran realitas yang dikonstruksi. Penelitian kritis cenderung menolak gagasan tentang validitas internal yang didasarkan pada asumsi adanya realitas yang dapat diindra, dapat diketahui, dan bersifat sebab akibat dan bahwa deskripsi penelitian mampu melukiskan realitas secara akurat.
  2. Dengan akomodasi antisipatif (anticipatory accomodation). Yaitu menolak gagasan tradisional tentang validitas eksternal sebagaimana lazim dilakukan perspektif positivistik untuk menyusun generalisasi (Denzin & Lincoln, 2009: 189).
Menurut Denzin dan Lincoln (1997), dalam perspektif teori kritis kontemporer, saat ini paling tidak telah lahir empat mazhab baru di bidang penelitian sosial, yaitu :
  1. tradisi teori kritis neo-Marxis yang dihubungkan paling dekat dengan karya Horkheirmer, Adorno dan Marcuse;
  2. tulisan-tulisan genealgonis Michel Foucault;
  3. praktik-praktik dekonstruksi post-strukturalis yang dikaitkan dengan  Derrida; dan
  4. aliran-aliran post-modernis yang dihubungkan dengan Derrida, Foucault, Lyotard, Ebert dan teoretisi post-modern yang lain. Di luar empat mazhab baru penelitian sosial teori kritis ini, etnografi kritis juga disebut-sebut sebagai bagian dari perspektif teori kritis-meski dengan cara dan tingkatan yang berbeda-beda (Denzin & Lincoln, 2009: 173).
Teori Kritis : Bermula dari Frankfurt School
Fokus perhatian Franfurt School adalah pada sifat kapitalisme yang terus berubah, terutama bentuk-bentuk dominasi yang menyertai perubahan tersebut.
Di  bawah kepemimpinan direktur pertama Frankfurt School. Carl Grunberg, institut yang kemudian dikenal sebagai pencetus aliran atau mazhab Frankfurt tersebut  semula aktif mengadakan kajian-kajian empiris, historis, dan yang berorientasi pada pemecahan masalah atas gerakan kelas pekerja eropa. Namun pada awal perkembangannya Frankfurt School belum mengembangkan teorinya sendiri, dan sekadar meminjam konsep serta teori dari Karl Korsc, George Lukacs, dan tokoh-tokoh lainnya yang termuat dalam jurnal Archiv fur die Geschichte des Sozialismus und der Arbeiterbewegung (Kuper & Kuper, 2000: 373).

PERKEMBANGAN KERANGKA TEORITIS KARL MARX DAN MAX HORKHEIMER


TahapPerkembangan Kegiatan dan Pemikiran
PertamaStudi-studi empiris di era kepemimpinan Grunberg
KeduaMunculnya teori sosial interdisipliner materialis di bawah kepemimpinan Horkheimer
KetigaMunculnya teori kritis sosial selama institut ini berada pada pengungsian antara tahun 1937 hingga awal tahun 1940-an
KeempatMenyebarnya para anggota Frankfurt School ke berbagai negara di tahun 1940-an
KelimaKembalinya Frankfurt School ke Jerman selama tahun 1950-an dan 1960-an.
KeenamPerumusan teori kritis oleh Fromm, Lowenthal, Marcuse dan tokoh-tokoh lainnya yang tetap bermukim di Amerika, yang ternyata berbeda dengan pemikiran rekan mereka yang kembali ke Jerman.
KetujuhBerlanjutnya perkembangan proyek Frankfurt School di bawah tokoh-tokoh baru, seperti Habermas, Oskar Negt, Alfred Schmidi di tahun 1970-an dan 1980-an. Beberapa tema yang semula tidak dikaji di era Horl, heimer, justru memperoleh tempat utama di era Habermas, seperti isu tentang hermeneutik  dan analisis linguistik
KedelapanMunculnya teoritisi kritis generasi baru yang aktif di dunia akademik di Eropa dan Amerika.

Sumber : Diolah dari Kata Pengantar Frans Magnis Suseno, dalam buku Sindhunata, 1983.

PERBANDINGAN KERANGKA TEORETIS KARL MARX DAN MAX HORKHEIMER


Aspek Perbandingan
Karl Marx
Max Horkheimer
Tenaga produktif utama
Modal
Teknik dan ilmu pengetahuan
Penindasan manusia pada masyarakat kapitalis
Penindasan kaum kapitalis terhadap kaum pekerja
Penindasan dilakukan terhadap semua oleh sistem produksi yang sangat ditetukan teknologi
Asumsi mengenai posisi kaum proletar dalam revolusi
Subjek
Tidak lagi menjadi subjek revolusi
Arti penting revolusi
Menciptakan masyarakat yang ideal
Mengembalikan keadaan semula yakni masyarakat penuh penindasan
Sasaran kritik
Teori ekonomi kapitalis
Kebudayaan teknokratis
Determinisme suprastruktur
Menentukan kesadaran manusia
Tidak lagi menentukan Tekanannya pada fungsi primer kesadaran dalam rangka emansipasi
Visi teori
Masyarakat yang tidak ada lagi kelas
Masyarakat  emansipatoris

Sumber : Diolah dari Kata Pengantar Frans Magnis Suseno, dalam buku Shindhunata, 1983.

LINGKARAN LUAR FRANKFURT SCHOOL


TeoretisiKata Kunci/TeoriFokus KajianPenjelasan Teoritis yang Dihasilkan
Franz Neumann & Otto KircheimerEkonomi monopolistik totalitarian, kompromi rentan (Iragile compromise).Fokus pada kajian teori hukum dan negara, khususnya integrasi politis masyarakat kapitalis maju dan perubahan konstitusional resmi yang mengiringi perubahan struktur ekonomi kapitalis.• Fasisme tidak pernah menghilangkan hukum fungsional pasar kapitalis
•Tatanan konstitusional masyarakat hukum selalu menjadi pengekspresian kompromi umum atau konsensus bersama di antara kekuatan politik yang ada.
Walter BenjaminTeknikalisasi, imajinasi piktorial, imajinasi kolektif.Fokus efek baru budaya massa modern pada isu teori sastra dan budaya.•Berbeda dengan Adorno yang menyatakan teknikalisasi menyebabkan pendeestetisan seni. Benjamin menyatakan seni yang mengalami teknikalisasi malah sebagai peluang terbesar bagi bentuk-bentuk baru perspektif kolektif.
•Pengalaman masyarakat bukan hanya perepresentasian imperatif-imperatif fungsional masyarakat saja, melainkan juga berisi ekspresi independen bagi pengembangan imajinasi kolektif.
Erich FrommInsting sosial, kepatuhan dinamis.Fokus pada kepribadian kaum borjuasi•Proses sosialisasi senantiasa dirembesi impuls-impuls instingtual dan insting sosial untuk kebutuhan pemeliharaan diri. Adapun pembentukan kepribadian yang unik secara historis terjadi lewat medium interaksi sosial.
•Perkembangan ego muncul dari penyatuan antara individualisasi yang meningkat dan sosialisasi yang mengembang.
Diolah dari tulisan Axel Honneth, dalam: Anthony Giddens & Jonathan Turner, 2008.

Jurgen Habermas : Generasi Kedua Frankfurt School

Secara garis besar, kiprah Frankfurt School dapat dibedakan ke dalam dua generasi yang berbeda. Jika Marx Horkheimer, Theodor W. Adorno (1903-1969), dan Herbert Marcuse (1098-1979) adalah tokoh generasi pertama, maka Jurgen Habermas adalah tokoh penting yang membangun teori kritis di kalangan generasi kedua (Susilo, 2008: 130).
Jurgen Habermas bergabung dengan Institut Penelitian Sosial di Universitas Frankfurt, yang didirikan kembali oleh Horkheimer dan Adorno, pada dekade pasca-Perang Dunia II setelah mereka kembali ke Jerman.

Ciri dan Sumbangan Teori Kritis

Menurut Agger (2003: 7-10) ada beberapa kesamaan dan ciri umum yang menjadi karakteristik dan kekhasan teori kritis, yaitu :
  1. Teori sosial kritis umumnya berlawanan dengan positivisme. Teori sosial kritis  beranggapan pengetahuan bukan semata-mata refleksi atas dunia statis di luar sana, tetapi konstruki aktif oleh ilmuan dan teori yang berasumsi sehingga tidak sepenuhnya bebas nilai. Teori sosial kritis tidak menjelaskan hukum alam masyarakat, tetapi memercayai bahwa masyarakat ditandai oleh historisitas (terus mengalami perubahan).
  2. Teori sosial kritis membedakan masa lalu dan masa kini, yang secara umum ditandai dominasi, ekspolitasi, dan penindasan. Masa depan akan meluruhkan fenomena ini. Teori sosial kritis menghubungkan masa lalu, masa kini, dan mas depan dengan pandangan bahwa potensi masa depan yang lebih baik ada di masa lalu dan masa kini.
  3. Teori sosial kritis berpandangan bahwa dominasi bersifat struktural; kehidupan masyarakat sehari-hari dipengaruhi oleh institusi sosial yang lebih besar, seperti politik, ekonomi, budaya, wacana-wacana (discourses), gender, dan ras. Teori sosial kritis mengungkapkan struktur itu untuk membantu masyarakat dalam memahami akar global dan rasional penindasan yang dialami.
  4. Teori sosial kritis berkeyakinan bahwa struktur dominasi direproduksi melalui kesadaran palsu manusia, dilanggengkan oleh ideologi (Marxl, reifikasi (Lukacs), hegemoni (Gramsci), pemikiran satu dimensi (Marcuse), dan metafisika keberadaan (Derrida). Kesadaran palsu dipelihara oleh positivistik sebagai entitas yang dikenalkan hukum kaku, sehingga orang senantiasa dikontruksi atau diajak berfikir bahwa perilaku yang beralasan berkaitan dengan pola keajekan ini. Teori sosial kritis mematahkan kesadaran palsu dengan meyakini adanya kuasa manusia, baik pribadi maupun kolektif untuk mengubah masyarakat.
  5. Teori sosial kritis berkeyakinan bahwa perubahan sosial dimulai dari rumah, pada kehidupan sehari-hari manusia, misalkan seksualitas, peran keluarga, dan tempat kerja. Teori sosial kritis menghindari determinisme dan mendukung volunterisme.
  6. Mengikuti pemikiran Marx, teori sosial kritis menggambarkan hubungan antara struktur dan manusia secara dialektis. Meskipun struktur mengkondisikan pengalaman sehari-hari, pengetahuan tentang struktur dapat membantu masyarakat mengubah kondisi sosialnya. Teori sosial kritis membangun jembatan dialektis ini dengan menolak determinisme ekonomi.
  7. Dengan mengaitkan kehidupan sehari-hari masyarakat dengan struktural sosial skala besar, teori sosial kritis berlawanan dengan pernyataan bahwa kemajuan akhir terletak pada ujung jalan panjang yang hanya dapat dilewati dengan mengorbankan kebebasan dan hidup manusia. Teori sosial kritis berkeyakinan bahwa manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas kebebasan mereka sendiri serta mencegah penindasan sesamanya atas nama masa depan kebebasan jangka panjang. Teori sosial kritis menolak pragmatisme revolusioner, dengan pernyataan bahwa diktator proletar atau kelompok garis depan elitis yang lain akan dengan cepat menjadi diktator atas kaum proletar. Kebebasan tidak dapat diraih melaui pengorbanan pragmatis kebebasan dan kehidupan.

Kelemahan Fundamental

Secara lebih tegas, Srinati (2007) menyatakan bahwa teori kritis dari Mazhab Frankfurt dituding gagal dalam dua hal, Yaitu :
  1. Kegagalan untuk memberikan bukti empiris atas teorinya, dan
  2. Penggunaan bahasa yang samar sekaligus tak terpahami untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya (Srinati, 2007: 83).

Secara lebih perinci, Agger (2003: 296) telah mencoba merumuskan beberapa kritik yang dilontarkan kepada teori kritis sebagai berikut :
  1. Teori kritis bersifat nonkuantitatif, sehingga gagal meraih standar metodologis sains.
  2. Teori kritis dinyatakan bersifat politis, menolak adopsi standar bebas nilai positif; ini adalah sosiologi kursi malas
  3. Teori kritis tidak memiliki “data”, mempertahankan spekulasi murni;
  4. Teori sosial positivistik tidak akan menoleransi penteorian teoretisi kritis yang dipolitisasi; dan
  5. Teori kritis dipandang oleh teori sosial positivistik berada di luar batas, tidak relevan subyektif dan bahkan dinilai bukan merupakan sosiologi sejati.

Perkembangan Teori Kritis Saat Ini :

Ben Agger (2003 : 339-384). Misalnya, saat ini telah mengidentifikasi paling tidak terdapat sebelas tempat di mana teori kritis telah atau dapat diterapkan pada berbagai penelitian empiris, yang berkaitan dengan tema-tema :
  1. Negara dan kebijakan sosial
  2. Kontrol sosial
  3. Budaya pop, analisis wacana dan media massa
  4. Kajian jender
  5. Psikologi sosial
  6. Sosiologi pendidikan
  7. Gerakan sosial
  8. Metode penelitian
  9. Ras dan etnisitas
  10. Politik dan politik makro; serta
  11. Pendidikan dan politik kurikulum.
Di luar sebelas bidang ini, adalah tantangan bagi teori sosial kritis untuk merambah lahan riset empiris yang makin variatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat luas, tanpa harus kehilangan kekhasan dan keberpihakannya.

Selasa, 07 November 2017

METODE PEMBELAJARAN

Apa yang dimaksud dengan pembelajaran diperguruan tinggi?
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang terprogram dalam desain FEE (facilitating, empowering, enabling), untuk membuat mahasiswa belajar secara aktif, yang menekankan pada sumber belajar. Pembelajaran merupakan proses pengembangan kreativitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir mahasiswa, serta dapat meningkatkan dan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan dan pengembangan yang baik terhadap materi perkuliahan.
Apa yang dimaksud dengan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (SCL)?
SCL adalah pembelajaran yang berpusat pada aktivitas belajar mahasiswa, bukan hanya pada aktivitas dosen mengajar. Situasi pembelajaran dalam SCL diantaranya bercirikan
Metode pembelajaran apa saja yang dapat diklasifikasikan sebagai pendekatan pembelajaran  SCL
  1. Small Group Discussion
  2. Role-Play & Simulation
  3. Case Study
  4. Discovery Learning (DL)
  5. Self-Directed Learning (SDL)
  6. Cooperative Learning (CL)
  7. Collaborative Learning (CbL)
  8. Contextual Instruction (CI)
  9. i. Project Based Learning (PjBL)
  10. Problem Based Learning and Inquiry (PBL)
Metode Simulasi dalam pendekatan pembelajaran SCL
Simulasi adalah model yang membawa situasi yang mirip dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya untuk mata kuliah aplikasi instrumentasi, mahasiswa diminta membuat perusahaan fiktif yang bergerak dibidang aplikasi instrumentasi, kemudian perusahaan tersebut diminta melakukan hal yang sebagaimana dilakukan oleh perusahaan sesungguhnya dalam memberikan jasa kepada kliennya, misalnya melakukan proses bidding, dan sebagainya. Simulasi dapat berbentuk :
Discovery Learning (DL)
DL adalah metode belajar yang difokuskan pada pemanfaatan informasi yang tersedia, baik yang diberikan dosen maupun yang dicari sendiri oleh mahasiswa, untuk membangun pengetahuan dengan cara belajar mandiri.
Self-Directed Learning (SDL)
SDL adalah proses belajar yang dilakukan atas inisiatif individu mahasiswa sendiri. Dalam hal ini, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan. Sementara dosen hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan, dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan individu mahasiswa tersebut.
Metode belajar ini bermanfaat untuk menyadarkan dan memberdayakan mahasiswa, bahwa belajar adalah tanggung jawab mereka sendiri, dengan kata lain, individu mahasiswa didorong untuk bertanggungjawab terhadap semua pikiran dan tindakan yang dilakukanya.
Cooperative Learning (CL)
CL adalah metode belajar berkelompok yang dirancang oleh dosen untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri atas beberapa orang mahasiswa, yang memiliki kemampuan akademik yang beragam.
Metode ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh dosen. Mahasiswa dalam hal ini hanya mengikuti prosedur diskusi yang dirancang oleh dosen. Pada dasarnya CL seperti ini merupakan perpaduan antara teacher centered dan student-centered learning
Collaborative Learning (CbL)
CbL adalah metode belajar yang menitikberatkan pada kerjasama antar mahasiswa yang didasarkan pada konsensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus memang berasal dari dosen dan bersifat open ended, tetapi pembentukan kelompok yang didasarkan pada minat, prosedur kerja kelompok, penentuan waktu dan tempat diskusi/kerja kelompok, sampai dengan bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok ingin dinilai oleh dosen, semuanya ditentukan melalui konsensus bersama antar anggota kelompok
Contextual Instruction (CI)
CI adalah konsep belajar yang membantu dosen mengaitkan isi matakuliah dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan memotivasi mahasiswa untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat, pelaku kerja profesional atau manajerial, entrepreneur, maupun investor
Project-Based Learning (PjBL)
PjBL adalah metode belajar yang sistematis, yang melibatkan mahasiswa dalam belajar pengetahuan dan keterampilan melalui proses pencairan/penggalian (inquiry) yang panjang dan terstuktur terhadap pertanyaan yang otentik dan kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati
Problem-Based Learning/Inquiry (PBL/I)
PBL/I adalah belajar dengan memanfaatkan masalah dan mahasiswa harus melakukan pencairan/penggalian informasi (inquiny) untuk dapat memecahkan masalah tersebut
Apa peran dosen dalam SCL?
  • Bertindak sebagai fasilitator dalam dalam proses pembelajaran.
  • Mengkaji kompetensi matakuliah yang perlu dikuasai mahasiswa di akhir pembelajaran.
  • Merancang strategi dan lingkungan pembelajaran yang dapat menyediakan beragam pengalaman belajar yang diperlukan mahasiswa dalam rangka mencapai kompetensi yang dituntut matakuliah.
  • Membantu mahasiswa mengakses informasi, menata dan memprosesnya untuk dimanfaatkan dalam memecahkan permasalahan hidup sehari-hari.
  • Mengidentifikasi dan menentukan pola penilaian hasil belajar mahasiswa yang relevan dengan kompetensi yang akan diukur.
Bagaimana peran mahasiswa dalam pendekatan pembelajaran SCL?
  • Mengkaji kompetensi matakuliah yang dapat dipaparkan dosen.
  • Mengkaji strategi pembelajaran pembelajaran yang ditawarkan dosen.
  • Membuat rencana pembelajaran untuk matakuliah yang diikutinya.
  • Belajar secara aktif (dengan cara mendengar, membaca, menulis, diskusi, dan terlibat dalam pemecahan masalah serta lebih penting lagi terlibat dalam kegiatan berfikir tingkat tinggi, seperti analisis, intesis dan evaluasi), baik secara individu maupun berkelompok
Apa yang perlu dilakukan institusi pendidikan tinggi agar dapat mengimplementasikan SCL secara efektif dan efisien?
  • Mengkaji kurikulum, program pembelajaran dan sistem penilaian hasil belajar yang mengacu pada SCL
  • Membuat kebijakan tentang sosialisasi dan penerapan SCL di institusinya
  • Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk terlaksananya SCL dengan menciptakan networking dengan dunia kerja, lembaga-lembaga masyarakat, atau instasi lain yang terkait.
  • Membenahi pola pikir (mindset) para dosen dan pengelola program pendidikan pada umumnya tentang pentingnya mengubah paradigma mengajar yang berorientasi pada dosen semata kepada pola pembelajaran yang berorientasi pada mahasiswa, yang dicirikan dengan adanya interaksi yang positif dan konstruktif antara dosen dan mahasiswa dalam membangun pengetahuan.
  • Melatih dan memberikan dukungan yang penuh kepada para dosen dalam menerapkan SCL dalam proses pembelajaran.
  • Memanfaatkan perencanaan pembelajaran yang berorientasi SCL, yang dikembangkan para dosen, dalam pengadaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran.
  • Menciptakan sistem yang memungkinkan dosen dan seluruh civitas academica dapat berkomunikasi dan berkoordinasi serta akses terhadap IT

Kamis, 05 Oktober 2017

Komponen dan Evaluasi Manajemen Strategi

Manajemen Strategik
Manajemen strategik dapat diartikan sebagai usaha manajerial menumbuh kembangkan kekuatan perusahaan untuk mengeksploitasi peluang bisnis yang muncul guna mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sesuai dengan misi yang telah ditentukan.
Determinan Tujuan Perusahaan Perusahaan didirikan dengan berbagai tujuan pokok antara lain :
  •   Memperoleh laba
  •   Meningkatkan harga saham
  •   Meningkatkan volume penjualan
  •   Mempertahankan kelangsungan hidup.
untuk  mencapai  tujuan  perusahaan  yang  telah  ditetapkan, manajemen perlu memperhatikan 2 faktor yakni :
  • Faktor Eksternal
Merupakan  lingkungan  bisnis  yang  melengkapi  operasi perusahaan yang daripadanya muncul peluang dan ancaman. Faktor ini mencakup :
-  Lingkungan industri
-  Lingkungan bisnis makro.
  • Faktor Internal
     Yang meliputi semua manajemen fungsional antara lain :
  -  Manajemen Pemasaran
  -  Manajemen Keuangan
  -  Manajemen Operasi
  -  Manajemen SDM
  -  Penelitian dan pengembangan
  -  SIM.
  -  Budaya Perusahaan
Pengertian dan Komponen Manajemen Strategik
  • Manajemen strategik dapat  diartikan  sebagai  usaha manajerial  menumbuh  kembangkan  kekuatan  perusahaan untuk  mengeksploitasi  peluang  bisnis  yang  muncul  guna mencapai  tujuan  perusahaan  yang  telah  ditetapkan  sesuai dengan misi yang telah ditentukan.
    • Misi perusahaan.
  • Sedangkan komponen pokok manajemen strategik meliputi :
    • Analisis  lingkungan  bisnis  yang  diperlukan  untuk mendeteksi peluang dan  ancaman bisnis.
    • Analisis  profil  perusahaan  untuk mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan perusahaan.
    • Strategi  bisnis  yang   diperlukan  untuk  mencapai  tujuan perusahaan dengan memperhatikan misi perusahaan.
Perkembangan Manajemen Strategik
Dengan  penyederhanaan  yang  agak  berlebihan,  sejarah perkembangan manajemen strategik dengan menggunakan tolak ukur waktu di negara maju dapat dikelompokkan dalam 4 tahapan :
  1. Anggaran dan pengawasan keuangan
Adalah modal perencanaan perusahaan yang dikenal pertama kali oleh para eksekutif perusahaan.
2. Perencanaan jangka panjang
Merupakan  modal  perencanaan  perusahaan  dimana  semua konsep,  teknik  dan  alat  analisa  yang  digunakan  pada  model tahap  pertama  tetap  digunakan  namun  sudah  mulai menerapkan untuk jangka waktu panjang, biasanya mencakup 5 tahunan.
3. Perencanaan strategik perusahaan
Adalah  model  perencanaan  perusahaan  yang menitik beratkan  pada  hal  pemasaran,  khususnya dalam  hal pemenuhan kepuasan konsumen.
4. Manajemen strategik
Adalah  perkembangan  lebih  jauh  dari  model- model yang sudah ada khususnya tahapan ketiga.
Intensitas Manajemen Strategik
Intensitas  dan  formalitas  manajemen  strategik  berbeda dari  satu  perusahaan  ke  perusahaan  yang  lain.  Cukup  banyak perusahaan  yang  menyusun  manajemen  strategik  secara komprehensip,  detail  dan  memberikan  tekanan  pada  akurasi.
Biasanya  dijumpai  pada  perusahaan  besar  dan  modern  karena tersedia  dana  dan  tenaga  yang  cukup  lebih  banyak  lagi perusahaan  yang  menyusun  managemen  strategik  secara sederhana  dan  parsial.  Jenis  ini  lebih  banyak  dijumpai  pada perusahaan  kecil  dan  menengah  yang  biasanya  tidak  memiliki cukup dana dan tenaga ahli.
Banyak  faktor  yang  mempengaruhi  intensitas  dan formalitas  penyusunan  manajemen  strategik  yang  secara sederhana dapat dilihat pada tabel berikut :

DETERMINAN INTENSITAS MANAJEMEN STRATEGIK
Formal & Detail                                                    Informal & Garis Besar
                                               Organisasi
                                                 ♦   Kecil   →
                                          ←   ♦  Besar
                                         Gaya Manajemen
                                          ♦  Demokratis   →
                                    ←   ♦  Otoriter
                                           ♦  Intuitif   →
                                           ♦  Operatif   →
                                           ♦  Pengalaman   →
DETERMINAN INTENSITAS MANAJEMEN STRATEGIK
Formal & Detail                                                    Informal & Garis Besar
                        Kompleksitas Lingkungan Bisnis
                                          ←   ♦   Stabil 
                                             ♦  Tidak Stabil  →
                        ←      ♦  Tingkat Persaingan Rendah
                                    ♦  Tingkat Persaingan Tinggi   →
                               ♦  Banyak pasar dan Konsumen
                                    ♦  Sedikit pasar dan konsumen   →

DETERMINAN INTENSITAS MANAJEMEN STRATEGIK
Formal & Detail                                                    Informal & Garis Besar
                                          Proses Produksi
                                ←           ♦  Padat Modal
                                   ←        ♦  Padat Karya
                                  ←         ♦  Terintegrasi
                                           ♦  Sederhana    →
                              ←        ♦  Teknologi Tinggi
                                 ♦  Teknologi Sederhana   →
                       ♦  Waktu Tunggu Retaliasi Pendek    →
           ←           ♦  Waktu Tunggu Retaliasi Panjang
DETERMINAN INTENSITAS MANAJEMEN STRATEGIK
Formal & Detail                                                    Informal & Garis Besar
                                     Karakteristik Persoalan
                        ←        ♦  Kompleks, Baru dan Keras
                                    ♦  Sederhana                             →
                                      Tujuan Perencanaan
                        ←       ♦  Koordinasi
                                   ♦  Latihan                                  →

Manfaat Manajemen Strategik
  • Sepanjang pemahaman dan praktek manajemen strategik yang dikenal oleh eksekutif perusahaan tidak menyimpang terlalu jauh, maka perannya yang signifikan dalam membantu perusahaan untuk mencapai tujuan tetap dapat diharapkan.
  • Termasuk di dalamnya peran historis yang selama ini telah disandangnya, yakni untuk membantu manajemen dalam melakukan pilihan strategi bisnis dengan pendekatan yang logis, rasional dan sistematis.

Minggu, 03 September 2017

Pola Kegiatan Perekonomian

A. Uangperdagangan dan spesialisasi

  • Uang
  • Spesialisasi dan perdagangan
Uang

  • Benda yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah
  • Semakin penting bagi bangsa yang nilai perdagangannya semakin tinggi
  • Peranan uang tidak terlalu penting bagi perekonomian subsisten
Perekonomian subsisten
  • Unit produksi terutama dari keluarga petani tradisional
  • Penggunaan teknologi sangat sederhana
  • Produktifitas rendah dan produksi hanya cukup untuk menopang hidup dengan tingkat yang sederhana
  • Output industri sangat sedikit
  • Peranan uang kurang diperlukan
Perekonomian Uang
  • Perekonomian yang menggunakan uang sebagai alat pembayaran perdagangan (bukan barter)
  • Terdapat spesialisasi dalam berproduksi
  • Produktifitas dan produksi tinggi sehingga terjadi surplus di tingkat produsen
  • Diperlukan pasar untuk menampung surplus produksi
  • Peranan uang menjadi sangat penting
Spesialisasi dan perdagangan
  • Menghasilkan produk sesuai dengan keahlianya
  • Lebih produktif dan efisien
  • Tidak diperlukan “kesesuaian ganda dari keinginan” dalam perdagangan (karena mediasi uang)
B. Pelaku Kegiatan Perekonomian
  • Rumah tangga
  • Perusahaan
  • Pemerintah
Rumah tangga
  • Pemilik dari berbagai faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian :
  • Tenaga kerja
  • Tenaga usahawan
  • Alat-alat modal
  • Kekayaan alam
  • Harta tetap
Perusahaan
  • Organisasi yang dikembangkan oleh seseorang atau sekumpulan orang dengan tujuan menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat.
  • Penggolongan perusahaan dalam industri :
    • Industri primer
    • Industri sekunder
    • Industri tersier
Industri primer
  • Perusahaan yang mengolah kekayaan alam dan mengeksploitasi faktor produksi yang disediakan oleh alam.
    • Pertambangan
    • Eksploitasi hutan
    • dsb
Industri sekunder
  • Perusahaan yang terlibat dalam penciptaan barang industri, perumahan dan bangunan, penyediaan air, listrik dan gas.
Industri tersier
  • Industri yang menghasilkan berbagai macam jasa :
    • Pengangkutan
    • Perdagangan
    • Perbankan
    • Persewaan bangunan
Sirkulasi aliran pendapatan
  • Jenis-jenis aliran
  • Sirkulasi aliran pendapatan dan ekonomi pasar
  • Pasar barang dan pasar faktor produksi
  • Interaksi diantara sektor rumah tangga dan perusahaan
Jenis-jenis aliran
  • Gaji/upah, sewa, bunga dan keuntungan
  • Tenaga kerja, tanah, modal dan keahlian keusahawanan
  • Barang dan jasa
  • Pengeluaran konsumsi
Interaksi sektor rumah tangga dan perusahaan dalam perekonomian pasar
  • Hasil interaksi:
    • Jenis barang dan jasa apakah yang harus diproduksikan
    • Tingkat harga dari masing-masing barang
    • Tingkat produksi dari masing-masing barang
Masalah-masalah pokok setiap perekonomian
  • Apakah barang dan jasa yang harus diproduksikan
  • Bagaimanakah caranya memproduksi barang dan jasa
  • Untuk siapa barang diproduksikan
Batas / Kurva Kemungkinan Produksi
Kurva yang menunjukan batas maksimum dari tingkat produksi yang dapat dicapai oleh suatu masyarakat dengan menggunakan seluruh faktor produksi yang dimilikinya.
Kurva kemungkinan produksi
  • Memerlukan asumsi (pemisalan)
  • Output bisa di bawah kemungkinan produksi maksimum karena pengangguran dan penghamburan
  • Tingkat produksi yang tidak dapat tercapai karena faktor produksi tidak mencukupi
  • Berubah bentuk karena teknologi yang tidak seimbang
Sistem-sistem perekonomian
1.Sistem pasar bebas (laissez-faire)
2.Sistem perekonomian campuran
3.Sistem ekonomi perencanaan pusat
Sistem pasar bebas
  • Masyarakat bebas menentukan kegiatan ekonomi
  • Pemerintah sama sekali tidak campur tangan urusan ekonomi
  • Seluruh sumberdaya dikuasai sepenuhnya oleh masyarakat
  • Masyarakat bebas menentukan jenis usaha dan pekerjaan
Kebaikan mekanisme pasar
  • Pasar memberikan informasi yang lebih tepat
  • Pasar merangsang pengusaha untuk mengembangkan kegiatannya
  • Pasar memberi perangsang untuk memperoleh keahlian modern
  • Pasar menggalakan penggunaan barang dan faktor produksi secara efisien
  • Pasar memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi
Keburukan mekanisme pasar
  1. Menggilas golongan tertentu
  2. Kegiatan ekonomi menjadi tidak stabil
  3. Menimbulkan monopoli yang merugikan
  4. Tidak dapat menyediakan barang secara efisien
  5. Menimbulkan eksternalitas yang merugikan
Sistem ekonomi campuran
  • Definisi
  • Bentuk campur tangan
  • Tujuan campur tangan
Arti sistem ekonomi campuran
Sistem ekonomi yang dikendalikan  dan diawasi oleh pemerintah tetapi masyarakat masih mempunyai kebebasan untuk menentukan kegiatan ekonomi yang diinginkannya.
Bentuk campur tangan pemerintah
  • Membuat peraturan-peraturan
  • Menjalankan kebijakan fiskal dan moneter
  • Secara langsung menjalankan kegiatan ekonomi
Tujuan campur tangan pemerintah
  • Menjamin kesamaan hak indifidu dan menghilangkan penindasan
  • Menjaga perekonomian agar tumbuh stabil
  • Mengawasi perusahaan agar tidak menjadi monopoli yang merugikan
  • Menyediakan barang bersama untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
  • Mengawasi agar eksternalitas yang merugikan tidak muncul
Sistem ekonomi perencanaan pusat
  • Arti
  • Siapa penggunanya
  • pandanganya
Arti sistem ekonomi perencanaan pusat
Sistem ekonomi dimana pemerintah sepenuhnya menentukan kegiatan ekonomi yang akan dilakukan suatu negara.
Pengguna sistem ekonomi perencanaan pusat
Banyak dipraktekan di negara-negara komunis
Pandangan sistem ekonomi perencanaan pusat
  • Pemerintah menjawab dan menyelesaikan pertanyaan tentang barang apa dan dalam jumlah berapa yang diproduksikan
  • Ekonomi pasar akan menghasilkan pengangguran dan ketidakadilan
  • Kegiatan usaha yang dijalankan pemerintah akan berjalan lebih efisien

Operasi dan Produktivitas

Apa itu Manajemen Operasi : Produksi – Penciptaan barang dan jasa Manajemen operasi (operation management – OM) - Aktivitas yang berhubu...