Kamis, 07 Juni 2018

Perhitungan Biaya Hidup

Perhitungan Biaya Hidup

Latar Belakang


Pada 1968, George Best, European Footballer of the Year termuda dan pemenang the European Cup bersama Manchester United pada tahun yang sama, memperoleh 150 pound Inggris per minggu atau sekitar 293 dolar AS. Pada yang sama, George Best dianggap sebagai bintang dan orang yang berpenghasilan baik jika dibandingkan dengan pemain – pemain sepak bola profesonal sesamanya.
Kini, pemain bola rata – rata di Liga Premier Inggris memperoleh pendapatan jauh lebih banyak daripada yang diperoleh George Best pada 1968. Ryan Giggs, yang sekarang ini merupakan pemain yang paling lama bermain di Manchester United dan yang juga memenangkan the European Cup bersama MU pada 1999, memperoleh pendapatan sebesar 75.000 pound (US$38.462) pada 2004 atau 131 kali lebih banyak dari yang diperoleh George Best pada 1968. Pada awalnya, fakta ini mungkin membuat kita berfikir bahwa sepak bola telah menjadi semakin menguntungkan selama empat decade terakhir. Namun, sebagaimana yang diketahui oleh semua orang, harga – harga barang dan jasa juga telah naik selama ini. Pada 1968, harga karcis minimum untuk menonton tim kesayangan kita di Liga Sepak Bola Inggris kira – kira sebesar satu dolar AS. Untuk menonton Manchester United, kita sekarang harus membayar antara 59 dan 98 dolar AS. Karena harga – harga jauh lebih rendah pada era George Best daripada harga – harga pada masa kita sekarang, tidaklah jelas apakah George Best mengalami standar hidup yang lebih tinggi ataukah lebih rendah dibandingkan dengan pemain – pemain bola hari ini.
Sebelumnya, kita telah melihat bagaimana pakar ekonomi menggunakan Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product—GNP) untuk mengukur jumlah barang dan jasa yang diproduksi oleh perekonomIan. Pada bab ini pakar ekonomi mengkaji bagaimana mengukur keseluruhan biaya hidup. Untuk membandingkan upah George Best sebesar US$975 dengan upah – upah yang diterima pada masa sekarang ini, kita perlu mencari semacam cara untuk menjadikan angka – angka ini menjadi ukuran daya beli yang bermakna. Ini adalah pekerjaan ahli statistic yang disebut dengan indeks harga konsumsi(IHK – consumer price index, [CPI’]). Setelah melihat bagaimana indeks harga konsumen dibentuk, kita akan membahas bagaimana kita dapat menggunakan indeks harga ini untuk membandingkan angka dolar dari masa – masa waktu yang berbeda.
Indeks harga konsumen digunakan untuk mengamati perubahan dalam biaya hidup sepanjang waktu. Ketika indeks harga konsumen naik, keluarga biasa harus menghabiskan pengeluaran yang lebih banyak untuk menjaga standar hidup yang sama. Pakar ekonomi menggunakan istilah inflasi untuk menggambarkan istilah  situasi saat tingkat harga perekonomian secara keseluruhan meningkat. Laju inflasi adalah perubahan persentase pada tingkat harga dari periode sebelumnya.

Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian dari Indeks Harga Konsumen ?
  2. Bagaimana masalah – masalah dalam perhitungan biaya hidup ?
  3. Bagaimana perbedaan deflator PDB versus Indeks Hrga Konsumsi ?
  4. Bagaimana nilai uang dari waktu ke waktu ?
  5. Apa pengertian dari indeksasi ?
  6. Apa perbedaan dari bunga nominal dan bunga riil ?
Tujuan
  1. Untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Teori Ekonomi, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuaan, Universitas Sebelas Maret.
  2. Untuk menegtahui pengertian dari Indeks Harga Konsumen
  3. Untuk mengetahui masalah – masalah dalam perhitungan biaya hidup
  4. Untuk mengetahui perbedaan deflator PDB versus Indeks Hrga Konsumsi
  5. Untuk mengetahui nilai uang dari waktu ke waktu
  6. Untuk mengetahui pengertian dari indeksasi
  7. Untuk mengetahui perbedaan dari bunga nominal dan bunga riil

Indeks Harga Konsumen


Indeks Harga Konsumen (IHK – consumer price index [CPI]) adalah ukuran biaya keseluruhan barang dan jasa yang dibeli konsumen. Ahli statistik pemerintah secara rutin menghitung dabn melaporkan indeks harga konsumen. Pada bagian ini, kita akan membahas begaimana indeks harga konsumen dihitung dan permasalahan – permasalahan apa yang muncul dalam pengukurannya.
Bagaimana Menghitung Indeks Harga Konsumen
Ketika menghitung indeks harga konsumen dan laju inflasi, Departemen Statistika menggunakan data tentang harga - harga barang dan jasa. Untuk melihat dengan tepat bagaimana statistika ini dibangun, kita lihat sebuah ekonomi sederhana dimana konsumen hanya membeli dua barang – soto dan mie ayam. Dolar AS digunakan untuk membandingkan harga.
  1. Tentukan isi  keranjangnya, Langkah pertama dalam menghitung indeks harga konsumen adalah menentukan harga – harga mana yang paling penting bagi konsumen tertentu. Jika konsumen tersebut membeli lebih banyak soto daripada mie ayam maka harga soto lebih lebih penting daripada harga mie ayam, sehingga harus diberikan bobot dalam biaya hidup.
  2. Tentukan harga – harganya. Langkah kedua dalam menghitung indeks harga konsumen adalah menemukan harga setiap harga barang dan jasa dalam keranjang untuk setiap masa waktu.
  3. Menghitung harga seluruh isi keranjang, Langkah ketiga adalah menggunakan data harga – harga untuk menghitung jumlah harga keseluruhan isi keranjang barang dan jasa dari waktu ke waktu.
  4. Memilih tahun basis dan menghitung indeksnya. Langkah keempat adalah memilih satu tahun sebagai tahun basis yang merupakan tolak ukur yang menjadi bandingan tahun – tahun lainnya. Untuk menghitung indeksnya, harga keranjang barang dan jasa untuk setiap tahun dibagi dengan harga keranjang pada tahun basis. Perbandingan ini kemudian dikalikan 100. Angka hasilnya adalah indeks harga konsumen.
  5. Menghitung laju inflasi. Langkah keliama dan langkah terakhir adalah menggunakan indeks harga konsumen untuk menhitung laju inflasi (inflation rate) yang merupakan perubahan persentase pada indeks harga dari periode sebelumnya, yaitu laju inflasi antara dua tahun yang berurutan dihitung sebagai berikut :
Laju inflasi pada tahun ke 2 =  x 100
Tabel ini menunjukkan bagaimana dalam menghitung indeks harga konsumen dan laju inflasi untuk perekonomian dimana konsumen hanya membeli soto dan mie ayam

Langkah 1 : Menyurvei Konsumen untuk Menentukan Keranjang Tetap Harga

5 Soto, 3 Mie Ayam

Langkah 2 : Mnecari Harga Setiap Barang pada Setiap Tahun

Tahun                                Harga Soto                         Harga Mie Ayam
2011                                       1                                              2
2012                                       2                                              3
2013                                       3                                              4

Langkah 3 : Menghitung Biaya Keranjang Barang pada Setiap Tahun

2011   ($1 porsi soto x 5 porsi soto) + ($2 porsi mie ayam x 3 porsi mie ayam) = $11
2012   ($2 porsi soto x 5 porsi soto) + ($3 porsi mie ayam x 3 porsi mie ayam) = $19
2013   ($3 porsi soto x 5 porsi soto) + ($4 porsi mie ayam x 3 porsi mie ayam) =$27

Langkah 4 : Memilih Satu Tahun sebagai Tahun Basis (2011) dan Menghitung Indeks Harga Konsumen pada Setiap Tahun

2011   ($11/$11) x 100 = 100
2012   ($19/$11) x 100 = 172,72
2013   ($27/$11) x 100 = 245,45

Langkah 5 : Menggunakan Indeks Harga Konsumen untuk Menghitung Laju Inflasi dari Tahun Sebelumnya

2012   (172,71 – 100)/100X100 = 72,71%
2013   (245,45 – 172,71)/172,71X100 = 42,11%

Masalah – masalah dalam Perhitungan Biaya Hidup


Target dari indeks harga konsumen adalah mengukur perubahan – perubahan pada biaya hidup. Dengan kata lain , indeks harga konsumen mencoba untuk mengukur berapa banyak penghasilan yang harus dinaikkan guna memelihara standar hidup yang konstan. Namun, indeks harga konsumen bukanlah ukuran biaya hidup yang sempurna. Tiga permasalahan dengan indeks sudah diketahui dengan luas tetapi masih sulit dipecahkan.
Permasalahan pertama disebut dengan bias subtitusi. Ketika harga – harga berubah dari satu tahun ke tahun yang lain, harga – harga tersebut tidak berubah secara seimbang. Ada harga yang naik lebih tinggi dari harga – harga lainnya. Konsumen merespon perubahan harga yang berbeda ini dengan membeli lebih sedikit barang – barang yang harganya naik tinggi dan membeli barang – barang yang harganya naik sedikit bahkan yang harganya mungkin turun. Dengan kata lain, konsumen beralih pada barang – barang yang relative tidak mahal. Jika indeks harga dihitung dengan mengasumsikan keranjang harga tetap, indeks harga ini menghilangkan kemungkinan subtitusi (atau penggantian) yang dilakukan oleh konsumen sehingga terlalu melebih – lebihkan kenaikan biaya hidup dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Anggaplah bahwa dalam tahun basis, mangga lebih murah daripada nanas. Akibatnya konsumen membeli lebih banyak mangga daripada nanas. Ketika Departemen Statistika menyusun keranjang barang, departemen ini akan menyertakan lebih banyak mangga daripada nans. Anggaplah nanas lebih murah daripada mangga. Konsumen secara otomatis akan merespons perubahan harga ini dengan membeli lebih banyak nanas dan lebih sedikit mangga. Namun, ketika menghitung indeks harga konsumen, para ahli statistika menggunakan keranjang tetap yang esensinya mengasumsi bahwa konsumen akan terus membeli mangga yang sekarang sedang mahal dalam jumlah yang sama sebagaimana sebelumya. Karena alas an ini, indeks ini akan mengukur kenaikan yang jauh lebih besar pada biaya hidup daripada yang sebenarnya dialami oleh para konsumen.
Permasalahan kedua dengan indeks harga konsumen adalah munculnya batrang – barang yang baru. Ketika barang baru diperkenalkan, para konsumen memiliki varietas lebih banyak yang dapat mereka pilih. Ragam produk yang lebih besar, pada gilirannya, akan membuat uang lebih bernilai, sehingga konsumen membutuhkan uang lebih sedikit untuk memelihara standar hidup yang ada. Namun, karena indeks harga konsumen didasarkan pada keranjang tetap barang dan jasa, indeks harga konsumen tidak mencerminkan perubahan pada daya beli uang ini.
Contoh , ketika telepon genggam diperkenalkan, konsumen dapat menelpon keluarga dan teman. Jika dibandingkan dengan menelpon dari telepon umum , menelpon keluarga dan teman dari telepon genggam lebih nyaman dan biayanya lebih murah. Indeks biaya hidup yang sempurna akan mencerminkan pengenalan telepon genggam dengan penurunan biaya hidup. Namun, indeks harga konsumen tidak berkurang dalam responnya terhadap pengenalan telepon genggam. Pada akhirnya, para ahli statistika membalikkan keranjang barang untuk menyertakan telepon genggam. Indeks ini kemudian mencerminkan perubahan pada harga telepon genggam. Namun, pengurangan pada biaya hidup yang berhubungan dengan pengenalan awal telepon genggam tidak pernah muncul dalam indeks.
Permasalahan ketiga dengan indeks harga konsumen adalah perubahan kualitas yang tidak terukur. Jika kualitas barang memburuk dari satu tahu ke tahun berikutnya, nilai uang jatuh, bahkan jika harga barang tetap sama. Begitu pun juga, jika kualitas naik dari satu tahun ke tahun berikutnya, nilai uang akan naik. Pakar statistika membuat penjelasan untuk perubahan kualitas ini sebisa mungkin. Ketiak kualitas barang di keranjang beruba, misalnya ketika sebuah model mobil memiliki tenaga kuda lebih besar atau mengkonsumsi bensin lebih hemat dari satu tahun ke tahun berikutnya. Pakar statistika akan menyesuaikan harga barang untuk menjelaskan perubahan kualitas. Pada dasarnya, pakar statistika mencoba untuk menghitung harga keranjang barang yang kualitasnya konstan. Meskipun usaha yang dilakukan pakar statistik sudah sangat besar, perubahan – perubahan pada kualitas masihlah merupakan masalah karena kualitas sangat sulit diukur.
Masih banyak perdebatan antara para pakar ekonomi tentang seberapa besar permasalahan pengukuran ini dan apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikannya. Beberapa ekonom meyakini bahwa harga indeks harga konsumen mungkin terlalu melebihkan inflasi setidaknya dengan 1 poin persentase setiap tahunnya. Dalam merespon kritik ini, para ahli statistik telah menerapkan beberapa perubahan teknis untuk memperbaiki IHK, banyak ekonom yang meyakini bawa bias ini sekarang hanya sekitar setengah dare persentase sebelumnya. Persoalan ini penting karena banyak program pemerintah menggunakan indeks harga konsumen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tingkat harga keseluruhan.

Deflator PDB versus Indeks Harga Konsumen


Deflator PDB adalah perbandingan PDB nominal dengan PDB sebenarnya. Karena PDB nominal adalah hasil saat ini yang dinilai pada harga saat ini dan PDB sebenarnya adalah hasil saat ini yang dinilai pada harga tahun basis, deflator  PDB mencerminkan tingkat harga saat ini yang berhubungan dengan tingkat harga pada tahun basis.
Pakar ekonomi dan pemangku kebijakan mengawasi deflator PDB dan indeks harga konsumen untuk mengukur seberapa cepat harga naik. Biasanya, kedua statistika ini menunjukkan hal yang sama. Namun, ada dua perbedaan penting yang dapat membuat keduanya berbeda.
Perbedaan pertama adalah deflator PDB mencerminkan harga semua barang dan jasa yang diproduksi didalam negeri, sedangkan indeks harga konsumen mencerminkan harga semua barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen. Misalnya, anggaplah bahwa kendaraan lapis baja yang diproduksi oleh pemanufaktur local dan dijual ke angkatan bersenjata harganya naik. Meskipun kendaraan ini adalah bagian dari PDB, kendaraan ini bukanlah bagian dari keranjang barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen biasa. Oleh karena itu, kenaikan harga ini muncul di deflator PDB, tetapi bukan di indeks harga konsumen.
Perbedaan pertama antara indeks harga konsumen dan deflator PDB akan terasa pentingnya ketika harga minyak berubah dan suatu Negara benar – benar tergantung pada minyak impor untuk memenuhi kebutuhan energinya. Akibatnya, minyak dan produk miyak seperti bensin dan minyak terdiri atas bagian belanja konsumen yang jauh lebih besar daripada bagian PDB. Ketiak harga minyak naik, indeks harga konsumen naik lebih banyak daripada deflator PDB.
Perbedaan kedua dan yang lebih tidak kentara antara deflator PDB dan indeks harga konsumen berhubungan dengan bagaimana beragam harga ketimbang untuk menghasilakan sebuah angka untuk tingkat harga keseluruhan. Indeks harga konsumen membandingkan harga keranjanag tetap barang dan jasa dengan harga harga keranjang pada tahun basis. Para ahli statisrik hanya sesekali saja mengubah keranjang barang ini. Sebaliknya, deflator PDB membandingkan harga barang dan jasa yang sekarang ini diproduksi dengan harga barang dan jasa yang sama pada taun basis. Oleh karena itu, kelompik barang dan jasa yang digunakan untuk menghitung deflator PDB berubah secara otomatis sepanjang waktu. Perbedaanya tidak penting ketika semua harga berubah dalam jumlah yang beragam, cara kita menimbang harga – harga yang beragam ini akan berarti penting bagi laju inflasi kesel
Tujuan mengukur tingkat harga keseluruhan dalam perekonomian adalah melakukan perbandingan antara nilai moneter dari masa waktu yang berbeda. Setelah mengetahui bagaimana indeks harga dihitung, indeks tersebut dapat digunakan untuk membandingkan pendapatan dari masa lalu dengan pendapatan saat ini.

Nilai Uang dari Waktu ke Waktu


Misalkan ada seorang pegawai Bank yang bernama Suni yang memiliki upah senilai Rp 200.000 pada tahun 1995 akan dibandingkan dengan upah pegawai Bank yg bernama Ita pada tahun ini (2014) yang sebesar Rp 3.000.000, hal ini secara spontan akan menimbulkan pendapat bahwa penghasilan Ita sebagai pegawai Bank saat ini mempunyai gaji/upah yang sangat besar dan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan upah Suni pada tahun 1995.
Namun bila diperhitungkan lagi kita mengetahui banyak barang dan jasa yang ada di Indonesia semakin meningkat seiring berjalannya waktu atau disebut inflasi, maka untuk membandingkan dan menghitungnya kita harus mengetahui tingkat harga tahun 1995 dan tingkat harga tahun sekarang 2014. Untuk membandingkan upah Suni tahun 1995 dengan upah Ita tahun 2014 maka kita harus menghitung inflasi upah tahun 1995 untuk mengubah nilai rupiah pada tahun 1995 ke dalam nilai rupiah tahun ini 2014.
Misalkan statistik menunjukkan Indeks Harga Konsumen pada tahun 1995 adalah 8,2 dan tingkat harga pada tahun 2014 ini adalah 90. Maka, dapat dihasilkan tingkat harga keseluruhan naik sebesar  = 10,976. Dari data-data tersebut kita dapat mengukur bagaimana upah Suni pada tahun 2014.
Upah Suni dalam rupiah tahun 2014 = Upah pada tahun 1995 x 
                            = Rp 200.000 x 
                            = Rp 2.195.122
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa upah yang di dapatkan oleh Suni pada tahun 1995 setara dengan upah saat ini Rp 2.195.122. Dengan upah itu masih lebih rendah jika dibandingkan dengan upah yang diperoleh Ita pada tahun ini yaitu sebesar 3.000.000.

Indeksasi


            Ideksasi merupakan penyesuaian otomatis dari jumlah uang yang ada dengan dampak inflasi oleh undang-undang atau kontrak. Biasanya perusahaan menyertakan indeksasi upah yang parsial atau yang lengkap pada indeks harga konsumen. Ketetapan ini disebut sebagai   Tunjangan Biaya Hidup dan secara otomatis meningkatkan upah ketika indeks harga konsumen naik.
            Indeksasi juga merupakan bagian dari berbagai undang-undang, misalnya pension dapat disesuaikan setiap tahun untuk mengkompensasi manula terhadap harga-harga yang naik. Kelompok pajak penghasilan-level penghasilan dimana tariff pajak berubah-juga dapat diindeksasi dengan inflasi.

Suku Bunga Nominal dan Riil


      Suku Bunga Nominal ( Nominal Interest Rate)
Suku Bunga Nominal adalah Suku bunga sebagaimana biasa diberitakan tanpa disesuaikan dengan dampak inflasi.
      Suku Bunga Riil ( Real Interest Rate)
Suku Bunga Riil adalah Suku bunga yang disesuaikan dengan dampak inflasi.
Ketika kita menabung di Bank maka kita akan mendapatkan bunga dari Bank, dan sebaliknya jika kita meminjam uang dari Bank maka kita harus membayar bunga pinjaman kita. Suku bunga selalu melibatkan pembandingan jumlah uang pada masa waktu yang berbeda, dan kita harus mengetahui bagaimana menyesuaikannya dalam dampak inflasi.
Contoh :
Seorang mahasiswa bernama Tono menabung pada Bank ABC sebesar Rp 20.000.000, pada Bank ABC memberikan bunga sebesar 5 % setiap tahunnya. Berarti pada tahun berikutnya Tono memiliki bunga sebesar Rp 1.000.000. Dengan demikian uang yang terkumpul dari tabungan Tono adalah Rp 21.000.000. namun seiring dengan berjalannya waktu, harga pada saat itu juga naik. Meskipun jumlah tabungan Tono lebih banyak karena adanya bunga, namun karena harga naik hal itu akan mengakibatkan daya beli yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan tahun lalu. Apabila laju inflasi sebesar 7 % maka daya beli atau jumlah barang yang dapat dibeli oleh Tono turun sebesar 2 %.
Hubungan antara Suku Bunga Nominal dengan Suku Bunga Riil adalah sbb:
Suku Bunga Riil = Suku Bunga Nominal – Laju Inflasi
  • Suku Bunga Riil adalah perbedaan antara Suku Bunga Nominal dengan Laju Inflasi.
  • Suku bunga nominal menunjukkan seberapa cepat jumlah rupiah di rekening bank kita naik sepanjang waktu.
  • Suku Bunga Riil menunjukkan seberapa cepat daya beli rekening bank kita naik sepanjang waktu.
Kesimpulan


Indeks harga konsumen menunjukkan biaya keranjang barang dan jasa yang berhubungan dengan biaya keranjang yang sama pada tahun basis. Indeks ini digunakan untuk mengukur keseluruhan tingkat harga dalam perekonomian. Perubahan persentase pada indeks harga konsumen mengukur laju inflasi harga konsumen mengukur laju inflasi.

Indeks harga konsumen adalah ukuran tidak sempurna dari biaya hidup nerdasarkan tiga alas an. Pertama, indeks ini tidak menjelaskan kesanggupan konsumen untuk beralih pada barang – barang yang menjadi relative lebih murah sepanjang waktu. Kedua, indeks ini tidak menjelaskan kenaikan pada daya beli uang karena adanya pengenalan barang – barang baru. Ketiga, indeks ini mengabaikan perubahan yang tidak terukur pada kualitas barang dan jasa . Akibat permasalah – permasalahan pengukuran ini, indeks harga konsumen melebihkan angka inflasi yang sebenarnya.

Selasa, 01 Mei 2018

Konsep Elastisitas

A.  Pengertian Elastisitas


Teori permintaan dan penawaran dapat digunakan untuk menjawab banyak sekali pertanyaan praktis. Apabila pajak baru dikenakan terhadap bahan bakar minyak, apakah para pengemudi memikul beban pajak itu ataukah dibebankan pada perusahaan- perusahaan minyak? Apakah peningkatan upah minimum membantu para buruh atau merugikan  mereka?  Apabila  sebuah  maskapai  penerbangan  menurunkan  harga tiketnya, apakah jumlah penumpang akan meningkat sedemikian banyak sehingga penghasilan benar- benar meningkat?
Supaya penawaran dan permintaan menjadi sebuah alat yang benar-benar  bermanfaat, perlu mengetahui berapa banyak penawaran dan permintaan akan memberikan tanggapan terhadap perubahan harga? Beberapa pembelian yang peka terhadap perubahan harga contohnya perjalanan liburan, sedangkan yang kurang peka terhadap perubahan harga diantaranya kebutuhan pokok berupa makanan, listrik, gas.
Hubungan kuantitatif antara harga dan kuantitas yang dibeli dianalisis dengan menggunakan

B.  Elastisitas Permintaan

Elastisitas Permintaan adalah perubahan relatif dalam jumlah unit barang yang dibeli sebagai akibat dari perubahan salah satu faktor yang mempengaruhinya.
  • Elastisitas yang dikaitkan dengan harga barang itu sendiri disebut elastisitas harga.
  • Elastisitas yang dikaitkan dengan harga barang lain disebut elastisitas silang.
  • Elastisitas yang dikaitkan dengan pendapatan disebut elastisitas pendapatan.
Elastisitas Harga

Elastisitas Harga (Ed) adalah persentase perubahan jumlah permintaan yang disebabkan oleh persentase perubahan harga.


Contoh, Fungsi permintaan:  Qdx = 60 -10Px;  dimana Q = kuantitas; P = harga


Bentuk-bentuk kurva penawaran berkaitan dengan Elastisitas Penawaran :

Contoh aplikasi konsep Elastisitas

a.  Pergeseran beban pajak (tax incidence)
  • Permintaan inelastis, penawaran elastis contoh menaikan pajak mie instant kpd produsen.
  • Permintaan elastis, penawaran inelastis contoh terhadap barang kerajinan cendera mata, menaikan pajak kpd konsumen
b.  Teori Cobweb (sarang laba-laba)
  • Terjadi pada produk pertanian karena berfluktuasi pada musim ke  musim; reaksi terlambat (time lag) dari produsen terhadap harga; undurable goods.

  • Koefisien elastisitas (Angka elastisitas) harga  bernilainegatif.
  • Ed = -2 mempunyai arti permintaan terhadap barang itu naik 200%, bila harga barang turun  100%, ceteris paribus. (dansebaliknya).
  • Angka Ed dapat disebut dalam nilai absolut. Ed = 2, artinya Ed =-2.
  • Semakin besar nilai Ed, semakin elastis permintaannya, sebab perubahan permintaan jauh lebih besar dibanding perubahanharga.
Beberapa kemungkinan tingkat elastisitas permintaan seperti kurva di bawah ini :


Metode pengukuran Koefisien Elastisitas:
  • Elastisitas Titik (point elasticity) titik A  B; B  A
  • Elastisitas Busur (Arc elasticity) busur C D

Mengukur Elastisitas Titik :


Faktor-faktor yang menentukan elastisitas harga:
  • Tingkat substitusi makin sulit mencari substitusi suatu barang, permintaan makin inelastic, contoh: beras inelastis; garam inelastis sempurna.
  • Jumlah pemakai makin banyak pemakai makin inelastic, contoh: beras sebagai makanan pokok orang indonesia.
  • makin besar proporsinya, makin elastic, contoh: garam vs TV
  • Jangka waktu  tergantung barangnya durabel atau nondurabel

Elastisitas Silang

Elastisitas  Silang  adalah  kecenderungan  perubahan  permintaan  suatu  barang tertentu disebabkan terjadi perubahan harga barang lain.

Elastisitas silang dapat menunjukkan hubungan 2 macam barang (komoditi) yang sifatnya;
  • Substitusi, dengan Ec > 0. daging sapi vs daging ayam.
  • Komplementer, dengan Ec < 0. bahan bakar minyak dg mobil
  • Barang yang tidak saling berhubungan (netral)

Elastisitas Pendapatan

Elastisitas Pendapatan adalah kecenderungan perubahan permintaan yang disebabkan oleh perubahan pendapatan masyarakat.
Persamaan:
Misalnya, jika penghasilan konsumen meningkat 10% permintaan barang X meningkat sebesar 15%. Koefisien elastisitas pendapatan terhadap permintaan barang X adalah:
Pada umumnya Barang Normal eI positif; Barang Superior eI positif; Barang Inferior eI negatif

Elastisitas Penawaran

Elastisitas Penawaran adalah kecenderungan perubahan jumlah yang ditawarkan produsen yang disebabkan oleh perubahan harga barang. Secara prinsip; pengukuran ratio perubahan yang terjadi dalam elastisitas penawaran akan sama dengan metode pengukuran dalam elastisitas permintaan.
Metode pengukuran: Elastisitas Titik dan Elastisitas Busur.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Elastisitas Penawaran;
  • Tingkat Subtitubilitas dengan produk lain.
  • Perubahan harga input.
  • Pertumbuhan modal perusahaan.
  • Kebijakan pemerintah pada perekonomian.
  • Persaingan.
  • Pertumbuhan pangsa pasar potensial.

    Bentuk-bentuk kurva penawaran berkaitan dengan elastisitas penawaran:

Contoh aplikasi konsep Elastisitas

  • Pergeseran beban pajak (tax incidence)
    • Permintaan inelastis, penawaran elastis contoh menaikan pajak mie instant kpd produsen.
    • Permintaan elastis, penawaran inelastis contoh terhadap barang kerajinan cendera mata, menaikan pajak kpd konsumen.
  • Teori Cobweb (sarang laba-laba)
    • Terjadi pada produk pertanian karena berfluktuasi pada musim ke  musim; reaksi terlambat (time lag) dari produsen terhadap harga; undurable goods.

Senin, 30 April 2018

Peranan Pemerintah Dalam Bidang Ilmu Ekonomi

A.  Pendahuluan

Terdapat tiga pertanyaan penting dalam perekonomian:
  1. Keluaran apa dan jumlah berapa yang perlu diproduksi?
  2. Bagaimanacara memproduksinya, yaitu teknik apa utk mengkombinasikan berbagai faktor produksi menjadi keluaran tertentu?
  3. Untuk siapa keluaran tsb dibuat dan bagaimana cara mendistribusikannya?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan masalah Permintaan yaitu permintaan masyarakat Pertanyaan kedua berkaitan dengan Penawaran yaitu sektor produksi
Sistem Pasar yang mengandalkan konsep permintaan dan penawaran untuk menyelesaikan 3 masalah ekonomi digambarkan sebagai berikut :


B.  Pasar dan Peran Pemerintah

Pasar
  • Pengertian umum: Merupakan tempat para pembeli dan penjual berinteraksi menentukan harga dan mengadakan pertukaran barang dan jasa.
  • Pengertian modern: Adalah sebuah mekanisme yang melaluinya para pembeli dan para penjual berinteraksi untuk menentukan harga dan melakukan pertukaran barang dan jasa.

Harga

  • Harga mengkoordinasikan keputusan-keputusan para produsen dan konsumen dalam sebuahpasar.
  • Harga-harga yang lebih tinggi cenderung mengurangi pembelian konsumen dan mendorong produksi.
  •   Harga-harga yang lebih rendah mendorong konsumsi dan menghambatproduksi.
  •   Harga adalah penyeimbang dari mekanismepasar.

C.   Jenis Sistem Ekonomi

  • Sistem Ekonomi Pasar.
  • Sistem Ekonomi Terpimpin / Terpusat.
  • Sistem Ekonomi Campuran.
Sistem Ekonomi Pasar: Keputusan untuk menetapkan produk yang dibuat, berapa banyak, dan bagaimana mendistribusikannya ditetapkan oleh pasar itu sendiri. Jadi mekanisme pasar, penawaran, dan permintaan terhadap setiap hal yang diperdagangkan tergantung pada kebutuhan masing-masing pihak yang melakukan transaksi.
Sistem Ekonomi Terpimpin/Terpusat: Segala sesuatu yang diproduksi, baik jumlah maupun kualitasnya, serta distribusinya diatur oleh pemerintah pusat.
Sistem Ekonomi Campuran: Pemerintah ikut campur dalam pengaturan beberapa hal- berfungsi sbg regulator, memastikan para pelaku ekonomi berperilaku sehat, bersaing dengan baik, sehingga faktor produksi dimanfaatkan seoptimum dan seproduktif mungkin.

D.  Peran Pemerintah

Kenapa Peran Pemerintah Diperlukan? Karena terjadinya Kegagalan Ekonomi Pasar:
  • Inefisiensi : monopoli, eksternalitas (side effect), barang publik.
  • Ketidakadilan : ketidak adilan yang tidak dapat diterima menyangkut pendapatan dan kekayaan.
  • Masalah makroekonomi : siklus bisnis (inflasi dan pengangguran), pertumbuhan ekonomi yang lamban.
Untuk menanggulangi masalah tersebut pemerintah berkewajiban :
  • Mengurangi Inefisiensi
    • Pemerintah berkepentingan untuk membuat undang-undang anti monopoli di Indonesia ada KPPU
    • Menetapkan berbagai perundangan, misal berkaitan dengan polusi, pencemaran lingkungan, fasilitas kesehatan masyarakat, dsb.
    • Peran pemerintah juga sangat diperlukan; bisa dengan cara subsidi kepada produsen atau konsumen
  • Menghindari Ketidakadilan
    • Pemerintah dituntut aktif untuk mengupayakan bukan saja pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga pemerataannya.
  • Solusi Masalah makroekonomi
    • Pemerintah dituntut secara aktif turun tangan pada saat ekonomi mengalami stagnasi, bahkan depresi, turun tangan sebagai pelaku ekonomi, bila sudah normal kembali sebagai regulator.
    • Pemerintah dapat menggunakan kebijakan fiskal (pajak, dan pembelanjaannya),  serta kebijakan moneter (suku bunga dan syarat-syarat kredit).
Peran nyata pemerintah dalam perekonomian
  • Menyediakan sarana/prasarana yang tidak dapat dilakukan oleh swasta (mis: aparat keamanan)
  • Side effect, meminimalkan hal-hal buruk dan memaksimalkan yang baik.
  • Memberikan pedoman/arahan (wajib belajar, KB, obat terlarang, dll)
  • Menolong yang lemah dan miskin
  • Pemerintahan yang stabil
  • Kondisi Pemerintahan yang stabil:
  • Hanya dapat dicapai bila kondisi ekonomi juga stabil/membaik; tetapi yang lebih penting adalah kalau adil.
  • Tingkat pengangguran minimum (lapangan pekerjaan terpenuhi)
  • Kebutuhan masyarakat terpenuhi, didorong agar tidak hedonisme
  • Inflasi rendah (dibawah 5%/tahun)
E.   Sumber Penerimaan Negara

Sumber Penerimaan Negara terdiri dari Pajak dan Bukan Pajak
  • Penerimaan Pajak :
    • Pajak dalam negeri
    • Pajak perdagangan internasional
  • Penerimaan negara bukan pajak :
    • Penerimaan sumber daya alam
    • Bagian laba BUMN
    • Penerimaan negara bukan pajak lainnya
Pajak dalam negeri :
  • Pajak Penghasilan (PPh)
  • Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan Pajak penjualan atas barang mewah (PPN/PPnBM)
  • Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
  • Cukai , dan Pajak lainnya.
Pajak Perdagangan Internasional :
  • Bea masuk
  • Pajak/pungutan ekspor
Penerimaan Sumber Daya Alam
  • Minyak bumi
  • Gas alam
  • Pertambangan umum
  • Kehutanan dan perikanan
Penerimaan negara bukan pajak:
  • Pendapatan penjualan, sewa, jasa, kejaksaan dan peradilan, pendidikan, dan lain-lain
Beberapa prinsip dasar pajak
  • Netralitas (obyektivitas)
  • Nonnetralitas
  • Simplicity (sederhana)
  • Equity (keadilan)
Netralitas (obyektivitas) misalnya perhitungan pajak STNK berdasarkan CC dan tahun pembuatan, bukan atas warna atau merek.
Nonnetralitas untuk mengarahkan hal-hal yang baik, misalnya pajak tinggi untuk industri berpolutan tinggi, pajak rokok tinggi, agar keinginan merokok turun.
Simplicity (sederhana), cara perhitungan, kolom pengisian pajak, hendaknya mudah dan  jelas
Equity (keadilan), untuk pemerataan, fasilitas umum, yang dapat dinikmati bersama-sama
Contoh pajak
  • PBB, Pajak Bumi dan Bangunan
  • PPH, Pajak Penghasilan, Badan dan Perorangan
  • PKB, Pajak Kendaraan Bermotor
  • PPN, Pajak Pertambahan Nilai, (di Restoran)
  • Pajak Pembeli dan Penjual untuk jual beli tanah

Selasa, 27 Maret 2018

Konsumen, Produsen, dan Efisiensi Pasar

A.  Surplus Konsumen
  • Surplus Konsumen adalah kesediaan konsumen membayar dikurangi jumlah yang sebenarnya dibayarkankonsumen.
  • Kesediaan membayar(willingness to pay) merupakan jumlah maksimum yang mau dibayar oleh konsumen untuk memperoleh suatu barang.
Contoh: Mengukur Surplus Konsumen untuk salah satu produk/jasa tertentu.

Calon pembeli
Kesediaanmembayar
AbdulRp 100.000
BeniRp 80.000
CharlesRp 70.000
DeviRp 50.000

 
            (a)                                      (b)
  • Pada panel (a) harga barangnya Rp 80rb, maka surplus konsumennya Rp20rb
  • Pada panel (b), harga barangnya Rp70rb, surplus konsumennya Rp40rb.
Bagaimana harga yang lebih rendah meningkatkan surplus konsumen, bisa dianalisis dengan kurva di bawah ini :


B.  Surplus Produsen

Surplus Produsen: jumlah pembayaran yang diterima penjual dikurangi biaya yang dipikulnya.
  • Biaya(Cost) : Nilai segala sesuatu yang harus dikorbankan penjual dalam memproduksi sesuatu barang.  Contoh Mengukur Surplus Produsen :
Calon Penjual          Biaya
SoniRp 900.000
EddyRp 800.000
LennyRp 600.000
LatifRp 500.000


  • Pada panel (a) bila harga produknyaRp 600rb, maka surplus produsennya Rp100rb.
  • Sedangkan pada panel (b) dimana harga produknyaRp800rb-an, maka surplus produsennya Rp 500rb.
Bagaimana harga yang lebih tinggi meningkatkan surplus produsen dapat dijelaskan dengan kurva berikut ini :



C.  Efisiensi Pasar


Efisiensi adalah kondisi ketika suatu alokasi sumber daya dapat memaksimalkan surplus total yang diterima oleh setiap anggota masyarakat.
Surplus konsumen dan surplus produsen adalah perangkat dasar yang digunakan para ekonom untuk mempelajari kesejahteraan ekonomis para penjual dan pembeli di sebuah pasar Efisiensi Pasar
  • Surplus konsumen = Nilai barang bagi pembeli – harga yang dibayarkanpembeli.
  • Surplus produsen = Harga yang diterima penjual – Biaya produksi yang dipikulpenjual.
  • Surplus total= (Nilai barang bagi pembeli – Harga yang dibayarkan pembeli) + (Harga yang      penjual – Biaya produksi yang dipikul penjual).
  • Surplus total=  Nilai barang bagi pembeli – Biaya produksi yang dipikul penjual.

Evaluasi Ekuilibrium Pasar



  • Surplus konsumen dan surplus produsen pada ekuilibrium pasar.
  • Ekuilibrium pasar akan memaksimalkan seluruh surplus produsen dan surplus  konsumen menunjukkan terjadi Efisiensi Kuantitas Ekuilibrium

Rabu, 21 Februari 2018

Prilaku Konsumen, Produsen, dan Konsep Biaya Produksi

A. Perilaku Konsumen

1.  Pengertian-Pengertian dan Asumsi Dasar.
  • Barang   (Commodities)diasumsikan    yang    mempunyai      sifat     makin  banyak dikonsumsi makin besar manfaat yang diperoleh (good).
  • Utilitas (Utility) manfaat yang diperoleh karena mengkonsumsi barang.
    • Total Utility (TU) manfaat total yang diperoleh
    • Marginal Utility(MU) tambahan manfaat yang diperoleh karena menambah konsumsi sebanyak satu unit barang.
  • Hukum Penambahan Manfaat yang makin menurun (The law of diminishing Marginal Utility) kenapa harga air lebih murah d/p berlian. Hukum ini dinamakan juga Hukum Gossen.
  • Konsistensi preferensi (Transitivity)
    • Prefer: lebih suka barang X d/p Y
    • Konsistensi preferensi: bila X lebih disukai d/p Y, dan Y lebih disukai dari Z; maka barang X   lebih disukai d/p Z.
    • Indifference: X dan Y sama-sama disukai
  • Perfect knowledge konsumen diasumsikan memiliki pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya.
2.  Teori Kardinal
  • Kegunaan dapat dihitung secara nominal disebut util.
  • Keputusan mengkonsumsi berdasarkan perbandingan harga dengan manfaat yang diperoleh.
  • Total Utility merupakan kegunaan yang diperoleh dari konsumsi, dan Marginal Utility adalah     tambahan kegunaan karena tambahan konsumsi 1 unit.
  • Total uang yang dikeluarkan adalah jumlah unit dikali harga satuan.
  • Kepuasan maksimum terjadi saat  MUx = Px.
Contoh:  Utilitas Total dan Utilitas Marginal dari mengkonsumsi Baju.


3.  Teori Ordinal
  • Kegunaan tidak dapat dihitung dan hanya dapat dibandingkan.
  • Analisis menggunakan kurva indiferensi dan budget line
Kurva Indiferensi: adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi dari 2 macam  barang yang memberi kepuasan yang sama kepada seorang konsumen. Dengan asumsi:
  • Konsumen mempunyai preferensi terhadap barang yang dinyatakan dalam peta indiferensi.
  • Konsumen memiliki uang.
  • Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.

Sifat  kurva Indiferensi:

  1. Semakin jauh kurva indiferensi dari titik origin, semakin tinggi tingkat kepuasannya.
  2. Cembung ke titik origin.
  3. Turun dari kiri atas ke kanan bawah dan Tidak saling memotong.

Kurva Garis Anggaran : adalah kurva yang menunjukkan kombinasi 2 macam barang yang dapat diperoleh dengan pendapatan yang sama. Perubahan harga dan pendapatan akan mempengaruhi daya beli konsumen
Keseimbangan Konsumen terjadi pada saat kurva garis anggaran bersinggungan dengan kurva indiferensi. Atau kepuasan tertinggi yang dapat dijangkau dengan pendapatan tertentu.

Reaksi terhadap perubahan harga barang

  • Price-Consumption Curve (PCC);
  • Demand Curve.
  • Permintaan Individu dan permintaan pasar.

Reaksi terhadap perubahan Pendapatan Nominal:

  • Income Consumption Curve (ICC);
  • Engel Curve;

Efek Substitusi dan efek Pendapatan

Jika harga suatu barang turun akan mengakibatkan 2 hal:
  1. Konsumen cenderung akan menambah pembeliaan barang yang harganya murah dan mengurangi barang yang harganya mahal (Efeksubstitusi)
  2. Pendapatan nyata   berubah  menyebabkan  jumlah permintaan  berubah(efek pendapatan) Efek substitusi selalu mempunyai hubungan yang terbalik dengan perubahan harga.
    Sedangkan efek pendapatan memiliki kemungkinan:
  3. kenaikan pendapatan nyata menaikkan permintaan (+) Barang Normal
  4. kenaikan pendapatan nyata menurunkan permintaan (-) Barang Inferior
B.   Perilaku Produsen
  • Model Produksi dengan satu faktor produksi variabel
    • Produksi Total
    • Produksi marjinal
    • Produksi rata-rata
    • Tiga tahap produksi
    • Model Produksi dengan dua faktor produksi variabel
    • Isokuan
    • Isocost (Kurva anggaran Produksi)
    • Pola jalur ekspansi

Skema Proses Produksi
Produksi merupakan konsep arus (flow concept), bahwa kegiatan produksi diukur dari  jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan kualitas barang atau jasa yang dihasilkan tidak berubah.
Tujuan Perusahaan
  • Maksimisasi Sumberdaya (Tenaga Kerja)
  • Maksimisasi Output (Penjualan)
  • Maksimisasi Growth (Pertumbuhan)
  • Kategori Kegiatan Produksi:
  • Produksi sesuai pesanan (custom-order production)
  • Produksi massal yang kaku (rigid mass production)
  • Produksi massal yang fleksibel (flexible mass production
  • Proses atau aliran produksi (process or flow production)
Model Produksi dengan satu faktor produksi variable
  • Fungsi Produksi Total (Total Product): TP
    • TP ↔ Q = f(L, K);  L = tenaga kerja; K = Modal
  • Produksi rata-rata (Average Product): AP
    • APL = TP/L  atau  APK  = TP/K
  • Produksi Marjinal (Marginal Product): MP
    • MPL = ∆TP/∆L atau MPK = ∆TP/∆K
Contoh Tabel Skedul Fungsi Produksi (Angka Hipotesis)


The Law of Diminishing Return

Hukum yang menyatakan berkurangnya tambahan output dari penambahan satu unit input variabel, terjadi pada saat output telah mencapai maksimum.
  • Asumsi yangberlaku :
  1. Hanya ada satu unit input variabel, input yang lain tetap.
  2. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi tidak berubah.
  3. Sifat koefisien produksi adalah berubah-ubah.
Kurva TP, AP, dan MP pada tahap-tahap Proses Produksi


Model Produksi dengan dua faktor produksi variable

Kurva Isoquant: adalah Kurva yang menghubungkan titik-titik kombinasi input yang menghasilkan tingkat output yang sama.



Berbagai kemungkinan kombinasi input pada kurva Isoquant


Marjinal Rate of Technical Substitution (MRTS)

  • Jumlah input L yang dapat disubstitusikan terhadap input K agar tingkat output yang dihasilkan tidakberubah.
  • Menunjukkan tingkat penggantian marjinal yang semakin kecil sepanjang pergerakan ke bawah kurvaisoquant.


Kendala Anggaran Produsen (Kurva Isocost)


Isocost adalah anggaran tertinggi yang mampu disediakan produsen untuk membeli input yang digunakan dalam proses produksi dihubungkan dengan harga input.
PKK + PLL ≤ C



Kurva Isocost terhadap Perubahan Harga Input dan Perubahan Pendapatan



Berbagai kombinasi input dengan biaya terendah



Kombinasi  Input  Variabel biaya   terendah (Least   Cost  Combination) terjadi  pada  titik singgung antara kurva isoquant dengan kurva isocost.



Secara matematis: MRTSLK = - MPL/MPK
Kondisi penggunaan input variabel yang dapat meminimumkan biaya:
MRTSLK = - MPL/MP= dK/dL

 

C. Konsep Biaya Produksi

Konsep Biaya Explisit dan Implisit
  • Biaya eksplisit = biaya yang terlihat jelas seperti pada laporan keuangan.
  • Biaya implisit = biaya kesempatan (opportunity cost)

Produksi, Produktivitas dan Biaya

Tingkat produksi berkaitan dengan tingkat produktivitas faktor-faktor produksi yang digunakan. Produktivitas yang tinggi menyebabkan tingkat produksi yang sama dapat dicapai dengan biaya yang lebih rendah.
Konsep Biaya Produksi Jangka Pendek
  • Biaya Total (Total Cost) merupakan jumlah dari biaya tetap dan biayavariabel.
  • Biaya Tetap (Fixed Cost) adalah biaya yang besarnya tidak tergantung dari jumlah produksi (misal: biaya modal, gaji, sewa gedung, dll)
  • Biaya Variabel (Variable Cost) adalah biaya yang besarnya tergantung dari tingkat produksi (misal: biaya bahan baku, upah buruh,dll)
Total Cost     = Fixed Cost + Total Variable Cost
             TC   = FC + TVC



Kurva Biaya Total, Biaya Tetap dan Biaya Variabel.
  • Biaya Rata-rata (Average Cost)
AC       =   AFC + AVC
TC/Q    =  FC/Q + TVC/Q
  • Biaya Marginal (Marginal Cost)
       MC      = dTC/dQ.

 Hubungan kurva-kurva Biaya



Biaya Produksi Jangka Panjang (Longrun Cost)

Dalam jangka panjang semua biaya adalah variabel.
         LTC   = LVC
         LMC = dLTC/dQ
         LAC  = LTC/Q
Kurva Biaya rata-rata jangka panjang:Teorema Amplop (Envelope Theorem)
  • SAC1 = kurva biaya rata-rata jangka pendek pada skala kecil.
  • SAC2 = kurva biaya rata-rata jangka pendek pada skala menengah.
  • SAC3 = kurva biaya rata-rata jangka pendek pada skala besar.


Kurva Biaya Marjinal Jangka Panjang (LMC)



Skala Produksi Ekonomis dan Tidak Ekonomis


Memaksimumkan Laba

Pendapatan (Revenue)
  • TR = Total Revenue =(Price x Quantity)
  • MR = Marginal Revenue (tambahan penerimaan akibat bertambahnya penjualan 1 unit) atau (turunan pertama dariTR).
  • AR = Average Revenue (rata-rata pendapatan)  =TR/Q

Titik Impas (BEP)



Jika biaya variabel per unit adalah v, maka VC = v.Q

Profit = PQ – ( FC+vQ )

Pada Quantity = Q*
Profit = PQ*-(FC+vQ*)
BEP tercapai pada saat profit=0
Maka:  Q* = FC/(P-v)

Total Revenue, Marginal Revenue, Average Revenue

Rabu, 17 Januari 2018

STRUKTUR PASAR

A. Struktur Pasar

Secara teoritis ada dua kondisi ekstrim posisi perusahaan dalam pasar. Pertama perusahaan berada dalam pasar persaingan sempurna, dimana jumlah perusahaan begitu banyak dan kemampuan  setiap  perusahaan  sangat  kecil  untuk  mempengaruhi  harga  pasar. Kedua adalah perusahaan hanya satu-satunya produsen (monopoli). Dalam posisi ini perusahaan mampu mempengaruhi harga dan jumlah output dalam pasar. Namun kondisi ekstrim tersebut jarang sekali terjadi. Yang pada umumnya adalah dua kondisi peralihan antara ekstrim pasar persaingan sempurna dan monopoli. Kondisi pertama adalah perusahaan bersaing, tetapi masing-masing mempunyai daya monopoli terbatas (monopolistik). Kondisi kedua adalah dalam pasar hanya ada beberapa produsen yang jika bekerja sama mampu menghasilkan daya monopoli (oligopoli).



B. Pasar Persaingan Sempurna

Sebuah industri dikatakan bersaing sempurna jika mempunyai karakteristik :
  1. Small Relatively Output -- Industri tersebut terdiri dari banyak sekali penjual independen dari sebuah komoditi, yang masing-masingnya terlalu kecil untuk mempengaruhi harga komoditas tersebut.
  2. Homogeneous produc t-- Semua perusahaan didalam industri tersebut menjual produk yang homogeny (identik)
  3. Perfect Knowledge dan Free entry and exit -- Terdapat mobilitas sempurna sumber- sumber daya, sehingga berbagai perusahaan dapat masuk atau keluar industri ini dalam jangka panjang tanpa mengalami kesulitan berarti.
  4. Price Taker -- Akibatnya perusahaan kompetitif sempurna merupakan “penerima harga” dan dapat menjual komoditas tersebut dalam jumlah berapapun pada harga pasar yang ada.
Permintaan dan Penerimaan dalam Pasar Persaingan Sempurna
  • Tingkat harga ditentukan oleh permintan danpenawaran
  • Perusahaan secara individu harus menerima harga tersebut sebagai hargajual
  • Jumlah output perusahaan relatif sangat kecil dibanding output pasar, berapapun yang dijual perusahaan harga relatif tidak berubah
  • Karena harga telah ditetapkan maka average revenue AR dan Marginal Revenue MR adalah sama dengan harga P

Kurva Permintaan Industri dan Perusahaan dalam pasar persaingan sempurna



Kurva Penerimaan: TR, AR, MR dalam pasar persaingan sempurna

C. Pasar Monopoli

Faktor-faktor penyebab tebentuknya Monopoli
  • Hambatan Teknis
    • Special knowledge
    • Tingginya tingkat efisiensi (rendahnya MC dan AC)
    • Memiliki kemampuan kontrol sumber daya faktor produksi
  • Hambatan Legalitas
    • Undang-undang dan Hak Khusus
    • Hak Paten atau Hak Cipta

Kurva Demand dan Keseimbangan Monopoli



Monopoli Alamiah



Diskriminasi Harga

Kebijakan diskriminasi harga adalah menjual produk yang sama dengan harga yang berbeda pada pasar yang berbeda dengan tujuan menambah laba melalui eksploitasi surplus konsumen.

Syarat diskriminasi harga :

  • Perusahaan memiliki daya monopoli
  • Pasar dapat dibagi menjadi 2 kelompok atau lebih yang elastisitas permintaannya berbeda
  • Pembagian pasar harus efektif
  • MR di tiap pasar adalah sama agar menghasilkan laba maksimum

Keseimbangan Perusahaan dalam Kebijakan Diskriminasi Harga.

  1. Tanpa melakukan diskriminasi harga, keseimbangan tercapai pada saat output = Qt dan harga = Pt. maka Laba maksimum = seluas bidang APtBC.
  2. Dengan diskriminasi harga, keseimbangan tercapai bila setiap pasar, MR-nya sama dengan MC MRa = MRb = MC.
  3. Keseimbangan di pasar A output = Qa; harga jual = Pa; Laba Maksimum = seluas bidang EPaFG
  4. Keseimbangan di pasar B output = Qb; harga jual = Pb; Laba Maksimum = seluas bidangHPbIJ
  5. Dengan diskriminasi harga, output total yang terjual (Qt) sama dengan Qa+Qb;
  6. [Laba maksimum-a + Laba maksimum-b] > Laba Maksimum-t ;
  7. surplus konsumen kelompok b tinggal sebesar luas KPbI;
  8.  Seluas PbLMI merupakan surplus konsumen (yang permintaannnya elastis) yang dieksploitasi menjadi laba perusahaan;
  9. luas segitiga IMN merupakan kesejahteraan konsumen yang hilang.
  10. Kurva permintaan di Pasar kelompok a lebih elastis Pa < Pb

Hilang atau Berkurangnya Tingkat Kesejahteraan Konsumen (dead weight loss).



Memburuknya Kondisi Perekonomian Internasional.



Aspek Positif Monopoli
  • Efisiensi dan pertumbuhan ekonomi: karena laba maksimal.
  • Efisiensi Pengadaan Barang Publik: karena skala usaha yang besar.
  • Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat: dalam diskriminasi harga memungkinkan masyarakat dapat menjangkau harga sesuai kemampuan.
D. Pasar Persaingan Monopolistis
  • Adalah struktur pasar di mana terdapat cukup banyak perusahaan yang menjual produk- produk yang mirip satu sama lain, namun tidak identik.
  • Teori pasar persaingan monopolistik dikembangkan karena ketidakpuasan terhadap daya analisis model persaingan sempurna maupun monopoli.
  • Model ini dikembangkan oleh Joan Robinson (ekonom Inggris) dan Edward Chamberlain (ekonom USA).
  • Struktur pasar hampir sama dengan persaingan sempurna, namun produk yang dihasilkan tidak homogen, melainkan terdiferensiasi
  • Diferensiasi ini mendorong perusahaan untuk melakukan persaingan non harga.
  • Output yang dihasilkan sangat mungkin saling menjadi substitusi

Karakteristik pasar persaingan monopolistik

  1. Produk terdiferensiasi
  2. Jumlah perusahaan banyak dalam industri
  3. Bebas masuk dan keluar pasar
  • Produk yang terdiferensiasi
    • Produk dapat dibedakan oleh konsumen dengan melihat siapaprodusennya.
    • Barang-barang tersebut dapat diperbedakan oleh kualitas barangnya, model, bentuk, warna, bahkan oleh kemasan, merek,danpelayanannya.
    • Konsumen dapat membedakan produk tertentu kesukaannya dari produk perusahaan lainnya. Hal ini menyebabkan perusahaan memiliki daya monopoli, walauterbatas.
    • Diantara produk-produk dapat salingmenjadisubtitusi.
    • Persaingan monopolistik berada diantara pasar persaingan sempurna dan monopoli.

  • Jumlah perusahaan banyak dalam industri
    • Contohnya dapat dilihat dengan begitu banyaknya merek pakaian dan sepatu.
    • Keputusan perusahaan tentang harga dan output tidak perlu harus  memperhitungkan reaksi perusahaan lain dalam industri, karena setiap perusahaan menghadapi kurva permintaannyamasing-masing.
  • Bebas masuk dan keluar pasar
    • Laba super normal akan mengundang perusahaan baru untuk memasuki industri.
    • Bagi perusahaan eksisting bila tidak mampu bersaing maka lebih baik keluar agar kerugian tidak menjadi lebihbesar.

Keseimbangan perusahaan dalam jangka pendek

  • Perusahaan mencapai keseimbangan dalam jangka pendek danpanjang.
  • Dalam jangka pendek perusahaan dapat menikmati laba super normal, dalam jangka panjang perusahaan hanya menikmati labanormal.
  •    Keseimbangan jangka pendek perusahaan tercapai bila MR=MC. Karena memiliki daya monopoli, walau terbatas.
  • P > MC ; tetapi kemampuan eksploitasi laba relatif terbatas, karena kurva  permintaan yang dihadapi sangatlandai.

Keseimbangan perusahaan dalam jangka panjang

  • Dibandingkan pasar monopoli, persaingan monopolistik masih lebih baik dilihat dari lebih kecilnya total kesejahteraan yang hilang (dead weightloss)
  • Dibanding pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik masih kurang efisien.
Penyebabnya:
  1. Harga jual masih lebih besar dari biaya marginal (P>MC)
  2. Dalam  jangka  panjang  mengalami  kelebihan  kapasitas (Excess  capacity), dapat dijelaskan dengan kurva berikut ini :

Pada saat keseimbangan jangka panjang (titik A), perusahaan tidak berproduksi pada tingkat paling efisien, sebab titik A bukan titik terendah pada AC.
  • Pada saat AC terendah output harus ditambah menjadi Qb.
  • Jika output melebihi Qa, menurunkan laba (bahkan rugi karena MC>MR)

Pengaturan pasar persaingan monopolistik

Ketidakefisienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi dalam pasar persaingan monopolistik tidak perlu pengaturan, karena :
  1. Daya monopoli yang relatif kecil menyebabkan kesejahteraan yang hilang relatif kecil.
  2. Permintaan yang sangat elastis menyebabkan kelebihan kapasitas produksi relatif kecil.
  3. Ketidak efisienan yang dihasilkan perusahaan diimbangi dengan kenikmatan konsumen karena beragamnya produk, peningkatan kualitas, dan meningkatnya kebebasan konsumen dalam memilih output.
E. Pasar Oligopoli

Pasar oligopoli adalah struktur pasar di mana hanya terdapat beberapa atau sedikit perusahaan saja yang menjual produk-produk yang identik atau yang mirip satu sama lain. Struktur pasar atau industri oligopoli adalah pasar (industri) yang terdiri dari hanya sedikit perusahaan (produsen) di mana:
  • Setiap perusahaan memiliki kekuatan cukup besar untuk mempengaruhi harga pasar.
  • Perilaku setiap perusahaan akan mempengaruhi perilaku perusahaan lainnya dalam industri.
  • Kondisi pasar oligopoli mendekati kondisi pasar monopoli.

Karakteristik Pasar Oligopoli

  • Hanya sedikit perusahaan dalam industri.
  • Produknya homogen atau terdiferensiasi.
  • Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi.
  • Kompetisi non harga.

  • Hanya sedikit perusahaan dalam industri.
    • Biasanya jumlah perusahaan diasumsikan kurang darisepuluh.
    • Kekuatan perusahaan-perusahaan dalam industri dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi, yaitu berapa persen output dalam pasar oligopoli dikuasai oleh perusahaan yangdominan.
    • Pasar suatu industri dikatakan berstruktur oligopolistik apabila CR4 (four firms concentration ratio) melebihi40%.
    • Jika CR8 = 80%, berarti 80% penjualan output dalam industri dikuasai oleh delapan perusahaanterbesar.

  • Produknya homogen atau terdiferensiasi.
    • Bentuk persaingan antar perusahaan adalah persaingan harga dan nonharga.
    • Contoh pasar oligopoli yang menghasilkan produk diferensiasi: industri mobil, rokok, filmkamera.
    • Oligopoli yang menghasilkan produk homogen: industri baja, pipa paralon, seng, dankertas.
    • Semakin besar tingkat diferensiasinya, perusahaan makin tidak tergantung pada perusahaan-perusahaanlainnya

  • Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi.
    • Keputusan perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output akan mempengaruhi perusahaan lainnya, baik yang sudah ada (existing firms) maupun yang diluar industri (potential firms).

  • Kompetisi non harga.
    • Bentuk kompetisi pelayanan purna jual serta iklan (informasi, citra yang baik, merek, mempengaruhi perilaku konsumen)
Faktor Penyebab Terbentuknya Pasar Oligopoli
  • Efisiensi skala besar.
    • Teknologi padat modal (capital intensive) yang dibutuhkan dalam  proses produksi menyebabkan efisiensi (biaya rata-rata minimum) baru tercapai bila output yang diproduksi dalam skala sangat besar. (industri mobil, semen, kertas, pupuk, peralatanmesin).
  • Kompleksitas Manajemen.
    • Karena kompetisinya harga dan non harga, Kemampuan keuangan yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk bertahan dalam industri. Perusahaan harus mempunyai kemampuan manajemen yang sangat baik agar mampu bertahan dalam struktur industri yang persaingannya begitukompleks.

Duopoli (Oligopoli yang hanya ada dua perusahaan)

Duopoli adalah keadaan khusus di mana dalam pasar oligopoly hanya ada dua perusahaan. Model ini dikembangkan untuk melihat lebih tajam interaksi antar perusahaan dalam pasar oligopoly.
  • Model Cournot

  •  Model ini dikembangkan oleh Augustin Cournot (1938)
  •  Masing-masing duopolis mempunyai daya monopoli yang sama
  •  Keputusan jumlah output yang diproduksi berdasarkan asumsi bahwa output duopolis yang satu (saingannya) sudah diputuskan dan tidak akan berubah.

Misal   permintaan pasar :              Q = 30 - P atau P = 30 - Q; di mana Q = Qa + Qb
Maka:               TRa = P x Qa = (30-Q) x Qa = {(30 - (qa  +Qb)} x Qa
= 30Qa - Qa2 – QaQb
Laba maks tercapai bila     MR = 0      
     MR = 30 - 2Qa – Qb = 0
     Qa  = 15 – 0,5Qb
Dengan cara sama:            Qb =15 – 0,5Qa

  • Model Kepemimpinan Stackelberg

  •  Pada model cournot mengasumsikan bahwa keputusan dua perusahaan dilakukan secara bersamaan sedang pada model ini ada perusahaan yang mengambil inisiatif terlebih dahulu, kemudian perusahaan kedua mengikutinya.
  •   Dari contoh sebelumnya P=30-Q dimana kurva reaksi perusahaan B: Qb=15 -0.5Qa. Maka untuk mencapai laba maksimum, fungsi penerimaan perusahaan A memperhitungkan reaksi perusahaan B.
       TRa ={(30 - (qa + Qb)} x Qa
= 30Qa - Q2a – QaQb
= 30Qa - Q2a -15Qa + 0.5Q2a
= 15Qa + 0.5Q2a
  MRa = dTRa/dQa = 15-Qa
Laba maksimum bila MR=0
Perusahaan A memproduksi 15 unit, sedangkan perusahaan B memproduksi 7,5 unit. Jadi perusahaan yang mengambil inisiatif penentuan harga memperoleh laba lebih besar dari pada follower.
  • Teori permainan (Game theory)
Duopolis tidak selalu mengambil keputusan kompetitif, tetapi juga kerjasama (cooperatif) Model dilema tahanan (Prisoners’ Dilemma Model)
  • Model ini menjelaskan bagaimana sikap seseorang mengambil keputusan  dalam keadaan tidak dapat berkomunikasi dengan teman atau lawannya.
  • Model dilema tahanan dapat diadaptasi untuk menganalisis keputusan masing-masing duopolis dalam menentukan harga jual.
Contoh dilema tahanan:
  • Dalam permainan dua penjahat yang tengah dicurigai telah melakukankejahatan.
  • Hukuman yang diterima masing-masing ditentukan oleh keputusan masing-masing untuk mengaku atau tetap tutup mulut.








Contoh lain dilema tahanan
  • Perlombaan senjata Amerika Serikat vs Rusia
    • terancam, terancam dan lemah, aman dan kuat, aman.
  • Permainan iklan atau tidak beriklan 2 produk rokok
    • laba cukup kecil, laba kecil- besar, laba besar-kecil, laba cukup besar

Operasi dan Produktivitas

Apa itu Manajemen Operasi : Produksi – Penciptaan barang dan jasa Manajemen operasi (operation management – OM) - Aktivitas yang berhubu...